Ada Apa dengan Zebra? & Tulisan Lainnya

Ada Apa dengan Zebra?

Ada 3 alasan mengapa kita harus belajar dari binatang yang bernama Zebra. Pertama, zebra adalah binatang yang disiplin dan teratur. Mereka dapat berbaris rapih dan antri tanpa harus saling menyodok serta gontok-gontokan selalu ingin berada di barisan terdepan.


Kedua, zebra punya tatakrama dan saling menghormati satu sama lain, terutama menghormati mereka yang lebih tua. Dalam baris-berbaris zebra mendahulukan yang lebih tua untuk baris di posisi paling depan sesuai dengan urutan umurnya.

Alasan Ketiga yang terakhir, zebra adalah binatang yang harmonis. Mereka hidup kelompok dan tidak pernah cekcok, cari makan bareng dan tidak pernah rebutan. Karena keharmonisan itulah banyak dari pemangsanya yang akhirnya terkecoh.

Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia? Sudah bisa seperti zebrakah?

Pelajaran: Bahkan binatang bisa memberikan contoh yang baik. Bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran???

Karya: Selfy Parkit, usia 26 tahun, guru TK, Tangerang

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX


Jika Aku Tua

Petang sepulang kerja, terlihatlah pemandangan yang mungkin biasa bagi setiap orang umumnya. Pemandangan ini datang dari seorang lelaki tua setengah bongkok yang berjalan tergopoh-gopoh bersama dengan istrinya yang terlihat masih segar dibandingkan dirinya. Melihat fenomena seperti itu seketika terlintas pertanyaan di dalam benak ini, “Apa yang harus kulakukan jika nanti aku tua?”

Mengingat fisik ini pun akan mengalami tua, rasanya kurang bijak kalo kesombongan, kemarahan, kebencian, dan ketidaktahuan masih saja menjadi bahan bakar dalam mengisi hidup kita. Apa yang dapat kita lakukan seharusnya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bukan malah menambah beban serta penderitaan bagi makhluk lain.

Pelajaran: Ingatlah bahwa tak ada seorang pun manusia yang tak membutuhkan orang lain dalam hidup, jadi sebelum fisik ini menjadi tua dan sulit digerakkan, ada baiknya kita selalu belajar, peduli terhadap makhluk lain dan tidak menunda apa pun yang bisa kita lakukan saat ini.

Karya: Selfy Parkit, usia 26 tahun, guru TK, Tangerang


XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX


Penting Ga Penting

“Say, aku cinta kamu” beberapa detik kemudian, “Say, aku benci kamu!” Apakah kalau mencintai seseorang harus dikatakan? Tapi kalau tidak, bagaimana dia tahu kalau kau mencintainya. Dan apakah kebencian juga demikian? Berbahaya! Mengapa? Karena ketika cinta itu datang perasaanmu dimabuk kepayang, ketika cinta itu pergi rasanya mabuk kepuyeng.

Kata orang cinta dan benci itu beda tipis. Cinta yang mengharapkan balasan memang akan menyiksa diri sendiri, lalu penting mana antara mencintai dan dicintai? Kata teman saya, lebih baik kita yang dicintai. Dengan mencintai, kita akan banyak belajar tentang kehidupan, tentang bagaimana reaksi yang timbul karena cinta itu sendiri. Simaklah kata-kata Shanti Deva berikut ini: Mereka yang merasa tidak bahagia itu adalah mereka yang mencari kebahagiaan diri sendiri. Dan semua yang bahagia, adalah karena mereka mencari kebahagiaan bagi yang lain. Engkau harus menukar kebahagiaanmu dengan penderitaan makhluk lain. LOVE YOU, Ajahn Bram.

Karya: Lani, karyawan, 23 tahun, Bandung


Ketiga artikel ini dimuat di Berita Vimala Dharma (BVD) edisi April 2010

0 comments: