Berbeda & Tulisan Lainnya

Berbeda

Di dalam buku perkembangan emosi dan fisik anak, terdapat penjelasan bahwa ada anak yang tidak merasa terganggu jika didorong temannya, sementara ada anak yang menangis ketika temannya menatap dengan tatapan tajam. Ada anak yang mengerti berbagi makanan dan mainan, sementara yang lain merasa harus menyimpan apa pun yang menjadi miliknya. Ada anak yang mampu melompat dengan satu kaki pada umur yang sangat muda, sementara anak lainnya berjuang bertahun-tahun untuk dapat melakukannya.

Merenung sejenak dari uraian tersebut, sesungguhnya begitulah batin dan fisik kita, berbeda satu dengan lainnya. Semua perkembangannya berjalan secara alami. Terkadang, kita tidak bisa memaksakan suatu pandangan yang belum bisa dimengerti oleh orang lain. Kita mungkin saja bisa memberikan masukan, tetapi jika tidak diterima, kita tidak boleh kecewa, kesal ataupun marah, karena pada dasarnya niat kita haruslah dilandasi oleh kasih sayang dan demi kebahagiaan mereka.

Pelajaran: Berbeda itu indah


XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX


Pesan Singkat

Kenyataan tidak semudah omongan, begitulah kata teman saya menanggapi SMS rutin yang saya kirimkan setiap paginya. Membaca pesan yang singkat itu seperti tamparan bagi saya. Bahwasannya hanya teori saja yang saya kirimkan setiap paginya, bukan solusi dan bantuan nyata bagi kehidupan.

Mungkin teman saya ini sudah mengalami hidup yang demikian berat, hingga ia tahu betul bahwa kenyataan tidak semudah teori yang ada. Namun hal ini membuat saya berpikir bahwa tidak semua orang yang mampu menerima masukan dan kata-kata bijak dari orang lain jikalau hidupnya sedang terpuruk.

Tapi apa yang dikatakannya memang benar adanya, terkadang kata-kata bijak itu bunyinya terlalu muluk, hingga kadang terdengar seperti tidak sesuai dengan kenyataan. Apa benar seperti itu adanya? Ataukah kita yang tak mau membuka mata? Apa pun jawabannya satu hal yang memberikan pelajaran bagi saya bahwa teori saja tidak cukup, perlu praktik, praktik, dan praktik.

Pelajaran: Berbicara tidak semudah melakukan


XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Woiii Ke Mana Aja???

“Anak yatim itu dipukuli ayahnya” atau “Anak yatim itu dipukulkan ayahnya”… Kalimat manakah yang lebih tepat? Apakah jawaban Anda jika pertanyaan tersebut ditujukan untuk Anda?

Beberapa waktu lalu saya menerima pesan SMS tersebut dari seorang teman ketika saya sedang menghadiri sebuah pesta pernikahan. Pertama kali saya membaca pesan tersebut yang ada di benak saya waktu itu untuk menjawab pertanyaan di atas adalah “Anak yatim itu dipukuli ayahnya.” Merasa benar dan sombongnya saya langsung mengirimkan pesan balasan tanpa membaca ulang dan menyadarinya.

Tahu kenapa, teman saya mengirim SMS balasan yang membuat saya terhentak seketika dan tersadarkan. “Anak yatim mana punya ayah!” begitu kata teman saya.

Terperanjat dengan sentilan kecil peringatan di benak saya, membuat saya tersadarkan bahwa saya sedang tidak sadar dan waspada, sampai hal sekecil itu pun terlewatkan untuk saya perhatikan. Hahaha…

Pelajaran: Tetaplah sadar dan waspada setiap saat


Ketiga tulisan ini karya: Selfy Parkit, usia 26 tahun, guru TK, Tangerang

0 comments: