Di Balik Senyumnya

Saat ayahnya meninggal, ia hanya menitikkan satu tetes air mata. Orang bingung dengan sikapnya yang sukar dipahami. Ibunya saja, hampir pingsan dengan wajah pucat pasi. Kakaknya lebih parah lagi, berteriak histeris tanpa kendali memecahkan kesunyian tangisan sesenggukan para pelayat yang datang. Sedangkan adik angkatnya yang berusia dua tahun pun ikut membanjiri suasana dukkha dengan air mata.

Orang hanya mencemoohnya dengan sebutan anak tidak punya rasa dan tak memiliki rasa sayang. Ia diam. Di pojok ruangan dengan senyum. Sekali lagi orang menatapnya sambil menggelengkan kepala dengan sinis. Langkah kakinya terayun, menghampiri jenazah ayahnya untuk yang terakhir kali. Dibuka perlahan kain kafan yang menutupi wajah sang ayah. Senyumnya menyeringai lebar. Orang-orang semakin heran dengan tingkahnya.

Ia mengedipkan matanya, bergumam dalam hati “Aku akan mengalaminya, karena kematian tidak pernah memandang apakah dia anak kecil, remaja, dewasa, atau orang tua bahkan jabang bayi yang masih dalam perutpun akan mengalaminya.” Ia menghampiri kakak perempuannya yang hampir pingsan juga. Memeluknya dan mengusap air matanya. Disandarkan tubuhnya pada tembok bercat putih yang baru dipoles ayahnya seminggu yang lalu.

Kakinya berselonjor, matanya kini menatap langit-langit yang berhiaskan kupu-kupu hasil coretan tangannya. Sepertinya ia asyik berkhayal dengan kedua bola matanya. Lalu ia menghampiri ibunya yang sudah tenang dan puas dengan tangisannya. “Sudah menjadi nasibmu Nak! Ibu kasihan sama kamu, kenapa semua harus begini?” Ibunya memeluk erat tubuhnya yang tidak terlalu gemuk. Ia tersenyum kembali menawarkan rasa pahit yang berkecamuk dalam dada ibunya.

Tangannya menyeka air mata di pipi ibunya dengan kelembutan jarinya yang tak berkuku. Ibunya menatap serius anaknya yang satu ini, yang sejak awal berita kematian ayahnya dilewati dengan senyum. Tak satu patah katapun ia keluarkan, padahal ia tidak bisu. Matanya tetap berbinar seperti biasanya, seolah ini hanyalah kejadian biasa yang pernah ia alami. Anak perempuan yang satu ini, menjadi pusat perhatian termasuk ibunya sendiri.

Acara doa dimulai. Satu kitab suci dibacakan oleh romo pandita yang mengiringi proses pengantaran jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Kali ini, ia tidak tersenyum. Hanya sedikit cemberut dan menyesal. Ibunya bertanya “Nak, kenapa kamu bersikap seperti orang bisu, apakah tidak ada sedikit sedih di hatimu?” “Oh, bukan begitu Bu, aku sedih namun bisa apa aku ini? Toh dengan menangis meraung tidak akan bisa mengembalikan ayah bukan!
Ibunya diam sejenak. Ia menghela napas panjang dan mulai bersuara lagi.

“Ibu sendiri tahu tentang Dhamma, selalu mengajariku untuk tetap tegar, tidak terlalu larut dalam kesedihan atau kebahagiaan. Tapi ibu belum mampu mengatasi hal itu, kenapa?”
Ya, pada dasarnya sebuah teori itu lebih mudah dari pada praktik, ibu hanya berekspresi tentang hidup Nak.” Ia menatap ibunya, seolah ingin berteriak memanggil dan mengajaknya untuk berdamai. Kemudian, ia merasa geram mendengar alasan ibunya yang bertele-tele tentang ekspresi hidup.

Ia berpikir tentang senyumannya itu yang dianggap aneh oleh orang-orang. “Kenapa kamu tersenyum di atas penderitaan orang lain?” Salah seorang tamu menghampirinya. Menginterogasi bagai tahanan yang tertangkap basah dengan bukti-bukti di depan mata. “Maaf Mba, ayahku pernah bilang dari tidak ada menjadi ada, dari ada kembali tidak ada, begitulah tubuh ini. Terus berproses.” “Apa maksudmu, anak idiot?” Tampaknya orang itu kurang puas dengan jawabannya, tinggalah ia sendiri bergulat dengan waktu.

Bunga-bunga bertaburan di atas makam ayahnya, tepatnya di bawah pohon rindang tempat buah-buah berbuah. Di dekatnya ada sebuah pohon jati besar dengan daun yang sangat lebar serta rumput yang kadang mengeluarkan bunyi irama karena gesekan angin. Kenapa bisa ayahnya meninggal dengan tiba-tiba?

Pagi itu, ayahnya memanjat pohon kelapa untuk mengambil janur sebagai pembuat cangkang ketupat. Kakinya menginjak dahan yang rapuh dan pada akhirnya jatuh. Sempat beliau meminta tolong namun akhirnya hanya napas terakhir yang ia hembuskan. Seandainya waktu bisa terulang mungkin ibunya tidak akan ada niat membuat ketupat dari janur kuning.

Kini ia menatap bunga-bunga di atas makam dan menaburkan dengan tangan kanannya. Ia menangis, karena ingin merasa lega. Ibunya memeluknya begitu juga dengan kakak perempuannya. Yang ia ingat saat terakhir dengan ayahnya adalah waktu semalam sebelum tidur. Ayahnya membacakan buku “Dari cinta, sayang, napsu, kemelekatan, dan keinginan timbullah kesedihan, ketakutan, ratap tangis, dan penderitaan. Tetapi seseorang yang terbebas dari rasa cinta, sayang, napsu, kemelekatan, dan keinginan tidak akan lagi mengalami kesedihan, ketakutan, ratap tangis dan penderitaan” (Dhammapada 212-216). Mungkin sebab itulah ibu dan kakak perempuannya menangis saat kehilangan orang yang mereka sayangi dan cintai. Sedangkan ia mulai menyadari akan suatu Dhamma (kebenaran) tentang kehidupan yang terus berproses seiring berjalannya waktu.


Karya: Lani

Juara 1 kategori B lomba penulisan cerpen Buddhis AMVBG Bandung.

2 comments:

lanie said...

Makasih Ko udah dibolehkan nongkrong karya saya :)

Hendry Filcozwei Jan said...

Sama-sama Lani.

Hendry Filcozwei Jan
www.vihara.blogspot.com