Belajar Hal Besar dari Si Kecil

Oleh: Hendry Filcozwei Jan *

“Setiap bayi lahir bagai sehelai kertas yang putih” begitu yang pernah penulis baca. Tapi dalam Buddha Dhamma, bukan seperti itu. Penulis teringat paritta yang sering dibacakan saat pujabakti: Brahmavihārapharana pada bagian upekkha (keseimbangan batin) artinya kurang lebih seperti ini: Semua makhluk, memiliki karmanya sendiri, mewarisi karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri, apa pun karma yang diperbuatnya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya.

Seorang bayi terlahir dengan segala kelebihan atau kekurangannya, adalah hasil tabungan karma kolektif (vipaka atau buah karma anak, orang tua, juga orang di sekitarnya). Ada anak yang terlahir dengan fisik sempurna di keluarga kaya raya, ada pula yang terlahir dalam kondisi cacat di keluarga miskin, dan aneka variasi di antaranya.

Penulis lebih mudah memahami, mengapa ada anak yang cenderung lebih pandai, lebih ramah, lebih sopan, lebih mudah diatur, atau justru lebih ke arah yang negatif. Mungkin inilah kelanjutan dari kehidupan sebelumnya.

* * * * *

Kami (penulis dan istri) berusaha mendidik kedua anak kami agar jadi anak yang baik. Kami memang mengajarkan kedua anak kami untuk  mau berbagi dan bersikap jujur. Tapi apa yang dilakukan Revata (Ray) yang masih duduk di TK B, jauh dari bayangan penulis. Pengalaman penulis dan cerita Linda (istri penulis) tentang perilaku Revata soal berbagi (adil) dan jujur membuat penulis tertegun.

Setiap pulang dari ekstakurikuler Mandarin di sekolah, Revata selalu mendapat hadiah dari Vonny Laoshe. Biasanya berupa permen, kadang biskuit. Begitu pulang sekolah, Revata langsung mengambil 2 piring plastik, lalu membagi permen atau biskuitnya sama banyak. Satu untuk Koko Dhika, satu untuk Revata, begitu Revata membaginya.

Bukan hanya kepada Koko Dhika (kelas 2 SD) saja, tapi juga kepada Mbak (pembantu) di rumah. Kalau kami belanja makanan, dan jumlah makanan itu lebih dari 4, pasti Revata bilang: “Aku tahu, satu untuk Mama, satu untuk Papa, satu untuk Koko Dhika, satu untuk Revata, satu untuk Mbak.”

* * * * *

Suatu hari, sepulang dari ekstrakurikuler (ekskul) angklung, penulis bertanya kepada Revata, “Bekalnya habis?” “Habis...” kata Revata. “Tapi satunya Ray kasih teman” lanjutnya. Waktu berangkat ke sekolah, memang penulis yang mengantarnya. Sebelum masuk, kami beli bekal di kantin sekolah. Biasanya cuma 1 bolu atau kue lainnya. Karena hari itu jadwal ekskul angklung, maka penulis belikan 2 bekal. Satu untuk sekolah, satu untuk dimakan setelah ekskul angklung.

Bekal untuk ekskul angklung berupa kue berbentuk panda, 1 bungkusnya berisi 2 kue panda.  “Ray yang bagi ke teman atau teman yang minta?” tanya penulis. “Richie bilang, aku minta satu dong. Lalu Ray kasih satu” Ray bercerita. “Ray yang ambilkan lalu berikan ke Richie?” tanya penulis lagi. “Bukan. Ray kasihkan tempat bekal, nih... Richie mau yang mana? Richie-nya pilih yang coklat, Ray makan yang pink” lanjutnya. Membagikan makanan kepada teman, malah teman disuruh memilih dulu, sesuatu yang memang di luar perkiraan penulis. Biasanya anak cenderung egois, tidak akan bagi. Kalaupun bagi, biasanya akan pilih yang bagus dan memberikan yang jelek ke teman. “Revata memang anak baik” penulis memeluk Ray sambil mencium keningnya.    

* * * * *

Satu lagi cerita dari istri penulis. Hari itu Revata diajak Mamanya yang sedang cuti ke supermarket. Anathapindika atau biasa kami sapa Dhika, masih sekolah. Seperti biasa, istri berbelanja keperluan sehari-hari. Kalau ikut berbelanja, si kecil pasti ikut mengambil makanan yang disukainya. Biasanya Revata akan mengambil biskuit atau aneka minuman.

Apa pun yang diambil Revata, ia selalu mengambil dua. Kalau ditanya, Revata akan bilang: “Satu untuk Ray, satu untuk Koko Dhika.”  Nah hari itu, Ray minta es krim Walls. “Ray, ambil es krim-nya satu saja. Koko masih sekolah, lagi pula Koko Dhika batuk” kata Mama. “Mau ambil dua, satu untuk Ray, satu untuk Koko” Ray bersikeras mengambil dua. “Sekarang pilih, Ray ambil es krim satu, makan sekarang, dan jangan bilang-bilang ke Koko Dhika atau tidak usah beli es krim?” Mama Linda memberi pilihan.

Kita tentu akan berpikir, jika ditawari es krim, pasti anak kecil akan pilih es krim. Anak kecil cenderung “lebih suka” pilih berbohong. Toh... dalam kasus ini, Mama yang menyuruh:  Jangan bilang-bilang ke Koko kalau Revata makan es krim.

Tahu apa pilihan Revata? Tak disangka, Revata mengembalikan kedua es krim yang sudah dipegangnya! “Nanti saja Ma beli es krim-nya” kata Revata. Ketika mendengar cerita ini, mata penulis berkaca-kaca.

Revata, semoga kami bisa menciptakan suasana mendukung agar sifat baikmu ini bertahan hingga engkau dewasa kelak.



* penulis adalah suami Linda, ayah 2 putra; Dhika dan Ray, pengelola blog www.vihara.blogspot.com dan www.rekor.blogspot.com , tinggal di Bandung.


Dikutip dari majalah Permata Dhamma edisi 21, Feb 2012 halaman 36-37.





Bisa juga dibaca di: Majalah Permata Dhamma

0 comments: