B.08 Bhikkhuṇī Sakulā


Bhikkhuṇī Sakulā
Unggul dalam Mata Surgawi


Aku adalah perumah-tangga perempuan yang kaya raya dan gemar melakukan kebajikan. Aku tinggal bersama suami dan kedua anakku di Sāvatthī.

Tatkala Bhagavā menerima undangan derma dari Anāthapiṇḍika, aku mendengar Dhamma yang Ia jelaskan. Aku merasa sangat bahagia dan memutuskan menjadi bhikkhuṇī, meninggalkan semua hartaku.

Pada masa Buddha Padumuttara, aku lahir sebagai Nandā, adik tiri Buddha Padumuttara. Aku pernah mengucapkan tekad untuk menjadi yang unggul dalam mata sakti di hadapan Buddha Padumuttara.

Pada masa Buddha Kassapa, aku menjadi seorang petapa hutan. Aku pernah mendermakan minyak yang aku peroleh dari seorang dermawan untuk pelita di stupa relik Buddha Kassapa.

Setelah meninggal dan mengalami kelahiran ulang yang tak terhitung jumlahnya, aku lahir menjadi Sakulā. Setelah tekun berlatih Dhamma, aku berhasil menembusi kesucian Arahatta serta memiliki kemampuan melihat alam-alam lain.

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

B.07 Bhikkhuṇī Soṇā

 


Bhikkhuṇī Soṇā
Unggul Dalam Pengerahan Daya

 
Ketika muda, aku mencurahkan seluruh hidup demi sepuluh anak-anakku. Setelah semua anak kami menikah, suamiku menjadi bhikkhu. Aku membagi semua harta kepada anak-anak. Mereka lalu menyokongku secara bergantian. Selang beberapa waktu, mereka mulai merasa aku menjadi beban dan menolak merawatku. Mereka lupa akan kebajikan dan kasih ibu mereka.
 
Dalam keperihan hati, aku menemui Bhagavā. Setelah mendengarkan Dhamma-Nya, aku tak lagi sedih dan kecewa pada anak-anakku. Aku memutuskan menjadi bhikkhuṇī.
 
Aku menyadari usiaku sudah tua. Aku tidak menyia-nyiakan waktu. Aku mengurangi waktu tidur, belajar Dhamma dengan tekun dan bersemadi sepanjang malam. Sambil berlatih aku juga melayani para bhikkhuṇī, seperti memasak air, membersihkan wihara. Dengan mata batin, Bhagavā melihat semangat juangku yang begitu gigih, Ia lalu muncul di hadapanku dan membangkitkan semangatku. Aku makin tekun berlatih hingga menjadi Arahanta.
 
Dengan sengaja, aku menunjukkan pencapaian spiritual agar para bhikkhuṇī yang senang mencelaku tidak berbuat karma buruk. Aku mengisi sebuah guci dengan air, lalu memanaskan air itu dengan kesaktian. Saat rekan-rekanku menemukan air di guci panas tanpa api, mereka mengerti bahwa aku sudah menembusi tataran spiritual yang tinggi dan meminta maaf kepadaku.

Salam Dharma.


Sumber: Ehipassiko Foundation

B.06 Bhikkhuṇī Nandā

 


 

Bhikkhuṇī Nandā
Unggul dalam Bersemadi


Aku adalah adik perempuan Pangeran Siddhattha, putri Raja Suddhodana dan Ratu Mahāpajāpatī. Aku ditahbis menjadi bhikkhuni bersama ibu dan para putri Sākiya. Tetapi, aku menjadi bhikkhuṇī bukan karena keyakinan, melainkan agar dapat terus bersama para saudari sesuku.

Setelah ditahbis, aku masih terlalu mencintai kecantikan. Suatu ketika, Bhagavā meminta bhikkhuṇī Mahāpajāpatī mengumpulkan para bhikkhuṇī karena Ia akan membabarkan Dhamma kepada kami. Aku meminta bhikkhuṇī lain menggantikanku, karena aku tidak ingin bertemu Bhagavā; aku takut Ia menegurku. Namun Bhagavā menolak, sehingga aku terpaksa datang sendiri.

Ketika aku datang, Bhagavā mengerahkan kesaktian, memunculkan sesosok perempuan cantik di hadapanku. Perempuan cantik itu menua, makin tua, hingga mati, dan lenyap di hadapan kami. Bhagavā menjelaskan kepadaku bahwa tubuh jasmani tidaklah tetap, akan terkena penyakit, dan melapuk. Bhagavā juga mengajarkan aku untuk mengembangkan batin dan sadar senantiasa.

Aku lalu cerah menembusi kesucian Sotāpatti. Setelah itu, Bhagavā mengajarkan aku sebuah pokok meditasi. Aku berlatih sungguh-sungguh hingga akhirnya menjadi Arahanta.

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

Yuk... Nikmati Indahnya Lagu "Lentera Dunia" yang Keren & Suara Merdu Elkyana

Ketemu video lagu Buddhis di YouTube, lagu Lentera Dunia karya Joky Huang (seperti juga karya-karya beliau yang lain) memang oke banget, ditambah lagi suara Elkyana yang keren. Mantaaaps. Admin bagi-bagi ke pengguna "Buddha Pedia", selamat menikmati.

 

Lentera Dunia oleh Elkyana

 

B.05 Bhikkhuṇī Dhammadinnā


Bhikkhuṇī Dhammadinnā
Yang Unggul dalam Berbicara Dhamma


Dhammadinnā adalah istri Visākha, hartawan dari Rājagaha. Suatu hari, setelah mendengar Dhamma dari Bhagavā, Visākha menembusi kecerahan. Ia pulang dan menceritakannya kepada Dhammadinnā. Dhammadinnā pun ikut bahagia.

Dengan pemahaman Dhamma yang makin mendalam, Visākha menembusi kesucian ketiga, Anāgāmī. Setelah itu, ia memberi kebebasan kepada Dhammadinnā dalam menjalani hidup. Dhammadinnā memilih untuk menjadi bhikkhuṇī. Visākha pun mendukungnya. Visākha melaporkan hal ini kepada Raja Bimbisāra. Dengan gembira, Raja Bimbisāra memerintahkan prajuritnya menyiapkan tandu emas untuk mengarak Dhammadinnā ke wihara. Rakyat Rājagaha menyambut Dhammadinnā dengan menghias kota.

Dhammadinnā melepas dandanan dan perhiasan, mengenakan jubah, duduk di tandu emas, diiringi Raja Bimbisāra dan Visākha. Dhammadinnā terlihat anggun dan teduh. Penduduk kota memberi hormat sambil menebar bunga ke arahnya.

Dhammadinnā pun dicukur dan ditahbis menjadi bhikkhuṇī. Setelah itu, ia berlatih dengan tekun di tempat sunyi, hingga menembusi kesucian Arahatta.

Bhikkhuṇī Dhammadinnā sangat piawai membabarkan Dhamma. Banyak orang jadi bahagia setelah mendengarkan penjelasannya. Suatu hari, Visākha datang membahas Dhamma dengannya. Pertanyaan sulit Visākha dapat dijawab dengan mudah oleh Bhikkhuṇī Dhammadinnā. Visākha melaporkan hal ini kepada Bhagavā. Bhagavā memuji, “Dhammadinnā adalah bhikkhuṇī yang bijaksana. Jika engkau bertanya kepada-Ku, Aku akan menjawab dengan cara yang sama dengan Dhammadinnā.”

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

B.04 Bhikkhuṇī Paṭācārā

 


Bhikkhuṇī Paṭācārā
Yang Unggul dalam Mengingat Vinaya


Seorang putri keluarga kaya di Sāvatthī lari dari rumah bersama pelayan yang ia cintai menuju sebuah desa. Ketika mengandung dan saat hari kelahiran dekat, ia diam-diam berangkat ke Sāvatthī. Suaminya menyusulnya. Namun, di tengah jalan, putra mereka lahir. Mereka pun kembali ke desa.

Saat mengandung anak kedua, ia berniat membawa putra pertamanya pulang ke Sāvatthī. Suaminya mengejar dan membujuknya pulang, tetapi putra kedua mereka pun lahir di jalan. Malam itu terjadi badai hebat. Suaminya pergi mencari ranting dan daun untuk mereka berteduh. Namun, tak kunjung pulang.

Pagi itu, Sang Istri sangat kaget saat menemukan suaminya tewas dipatuk ular. Dalam sedih, ia meneruskan perjalanan. Saat harus melewati sungai deras, ia Merasa tak mampu menyeberang sungai dengan membawa dua putranya sekaligus. Ia lalu membawa bayinya menyeberang terlebih dahulu. Setelah meletakkan bayinya di tempat yang kering, ia kembali untuk menjemput putra sulungnya. Tiba-tiba, seekor elang menyambar dan menggondol bayinya. Serta-merta, ia berteriak panik, melambai-lambaikan tangan mengusir elang. Melihat ibunya melambai-lambai, putra sulung mengira bahwa ibunya memanggil. Ia masuk ke sungai untuk mendatangi ibunya, namun ia hanyut karena derasnya arus.

Sang ibu lalu meneruskan perjalanan sendiri. Saat dekat dengan rumah, ia mendengar kabar bahwa seluruh keluarganya tewas saat badai semalam merobohkan rumah keluarganya.

Ia pun menangis histeris, berjalan berputar-putar, hingga kain yang menutupi tubuhnya lepas dan jatuh. Karena itu, ia dipanggil “Paṭācārā” yang berarti “penginjak kain”. Suatu ketika, Bhagavā melihatnya dan berkata, “Saudari, sadarlah!” Seketika itu Paṭācārā sadar. Setelah seseorang menutupi tubuhnya dengan kain, Bhagavā menasihatinya.

Paṭācārā pun menembusi kesucian pertama dan menjadi bhikkhuṇī. Suatu ketika, saat sedang mencuci kaki, Bhikkhuṇī Paṭācārā merenungi bahwa kematian dapat menimpa pada usia muda, sedang, atau tua. Bhagava lalu mengirim cahaya kemilau di hadapannya dan membabarkan Dhamma. Seketika itu, ia menjadi Arahanta.

Karena pengalaman hidupnya, Bhikkhuṇī Paṭācārā piawai membimbing bhikkhuṇī lainnya dan mempelajari Vinaya bhikkhuṇī secara mendalam.

Salam Dharma.


Sumber: Ehipassiko Foundation

B.03 Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā

 


Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā
Yang Unggul dalam Pengerahan Kesaktian


Uppalavaṇṇā adalah putri hartawan dari Sāvatthī. Karena kecantikannya, banyak raja dan laki-laki dari seluruh India mengirimkan pesan kepada ayahnya, ”Berikanlah putrimu kepadaku.” Ayahnya berpikir, ”Aku tidak mungkin memenuhi keinginan mereka semua.” Supaya tidak ada yang ditolak dan tidak ada yang diterima, ayahnya berkata kepada Uppalavaṇṇā, ”Maukah kamu menjadi bhikkhuṇī?” Uppalavaṇṇā menerimanya dengan senang hati.

Suatu hari, saat tinggal di sebuah gubuk di dalam hutan, Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā diganggu oleh Ānanda, sepupunya sendiri yang berniat jahat kepadanya. Setelah Ānanda keluar dari gubuk itu, Ānanda jatuh ke dalam tanah yang terbelah. Setelah kejadian ini, supaya para bhikkhuṇī dapat tinggal dengan aman, Bhagavā meminta Raja Pasenadi untuk membangun wihara untuk para bhikkhuṇī di dekat kota.

Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā tak pernah gentar karena setelah tekun bermeditasi ia mendapatkan kesaktian dan kesucian. Suatu ketika, Māra datang mengganggu Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā. Bhikkhuṇī Uppalavaṇṇā hanya menjawab, ”Walau seratus makhluk sepertimu datang, aku tak gentar! Kau tak akan mampu menangkapku!”

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

B.02 Bhikkhuṇī Khemā

 


Bhikkhuṇī Khemā
Unggul dalam Kebijaksanaan Agung


Raja Bimbisāra punya istri bernama Khemā. Ia sangat jelita, kulitnya berwarna keemasan. Ia tergila-gila dengan kecantikannya sehingga tidak ingin menemui Bhagavā karena takut Bhagavā akan membahas kelekatannya terhadap kecantikan.

Namun, Raja Bimbisāra lalu meminta pelayan menyanyikan keindahan Hutan Velu, tempat Bhagavā tinggal. Ratu pun jadi tertarik dan pergi mengunjungi Veḷu.

Setibanya di sana, Ratu Khemā tidak menemui Bhagavā. Saat ia akan pulang, Bhagavā memunculkan seorang gadis cantik bagai bidadari surga. Gadis itu mengipasi Bhagavā dengan daun palma. Khemā melihatnya dan berpikir, ”Gadis itu cantik seperti dewi, aku pun tidak bisa secantik dia!”

Dalam sekejap, Bhagavā membuat sang bidadari muda dan jelita itu berubah. Giginya tanggal, rambutnya menjadi abu-abu, dan kulitnya keriput. Gadis itu menjadi tua dan semakin renta, lalu ambruk ke lantai. Ratu Khemā terperangah, ”Tubuh secantik itu bisa hancur?! Tubuhku juga akan hancur seperti itu....”

Kemudian Bhagavā membabarkan Dhamma kepada Ratu Khemā. Setelah itu, Ratu Khemā mencapai kesucian pertama. Dengan persetujuan Raja Bimbisāra, ia menjadi bhikkhuṇī dan mencapai kesucian tertinggi. Bhikkhuṇī Khemā sangat bijak, sehingga diberi gelar ”Bhikkhuṇī Yang Unggul Dalam Kebijaksanaan Agung”.

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

B.01 Bhikkhuṇī Mahāpajāpatī Gotami

 


Bhikkhuṇī Mahāpajāpatī Gotami
Unggul dalam Masa Tahbis

 
Saat di Vesālī, Bhagavā mendapat kabar bahwa ayah-Nya wafat. Bhagavā pun pulang ke Kapilavatthu. Raja Suddhodana meninggal sebagai Arahanta. Setelah Raja Suddhodana meninggal, ibu tiri Bhagavā, Ratu Mahāpajāpatī Gotamī menemui-Nya. Ia meminta ditahbis menjadi bhikkhuṇī, namun Bhagavā menolaknya. Tiga kali ia mengajukan hal yang sama, namun Bhagavā menolaknya karena kehidupan tanpa-rumah sangatlah berat untuk perempuan.
 
Setelah Bhagavā kembali ke Vesālī, Ratu mencukur rambutnya dan mengenakan jubah kuning. Bersama sejumlah perempuan Sākiya, mereka menyusul Bhagavā ke Vesālī. Tanpa alas kaki, mereka menempuh ratusan kilometer jalan berdebu dan kasar. Akhirnya mereka tiba di wihara di Mahāvana, dengan bercucuran air mata dan tubuh penuh debu.
 
Saat itu Bhikkhu Ānanda melihat mereka, Ratu Mahāpajāpatī pun menjelaskan tujuannya. Bhikkhu Ānanda lalu menemui Bhagavā dan menjelaskan yang terjadi.  Setelah mempertimbangan berbagai hal, akhirnya Bhagavā menerima para perempuan Sākiya itu menjadi bhikkhuṇī. Saṅgha bhikkhuṇī pun terbentuk. Bhikkhuṇī Mahāpajāpatī dan para bhikkhuṇī Sākiya berlatih keras dan akhirnya mencapai kesucian tertinggi, Arahatta.
 
Di antara siswi bhikkhuṇī, Mahāpajāpatī adalah yang paling senior. Sebelum wafat pada umur 120 tahun, ia pamit kepada Bhagavā dengan menunjukkan mukjizat. Para bhikkhuṇī pengiringnya juga wafat pada hari yang sama.

Salam Dharma.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation