Namo Buddhaya...

"Selamat Datang di Blog Vihara (Pusat Info Buddhis). Selamat Tahun Baru Imlek bagi semua orang Tionghoa (Senin, 08 Februari 2016). Gong Xi Fa Chay. Selamat menjelajahi isi blog ini, semoga blog ini bermanfaat..."


Selamat datang di blog "Pusat Info Buddhis" Hendry Filcozwei Jan.

Penulis terus berusaha melakukan perbaikan-perbaikan demi kenyamanan pengunjung blog. Salah satunya adalah hanya menampilkan judul posting saat Anda klik tulisan di bawah tulisan "Labels." Ini dilakukan agar proses loading tidak lama. Semoga dari hari ke hari, blog ini tampil lebih baik lagi.

Penulis mohon maaf karena perbaikan-perbaikan ini, banyak links lama di blog Vihara ini sudah tidak berfungsi. Jadi kalau Anda pernah copy paste file dari sini, mungkin Anda harus mengganti links-nya.
Agar tak menyita waktu Anda, berikut penjelasan tentang blog Vihara (Pusat Info Buddhis).


Keterangan tentang Blog Vihara (Pusat Info Buddhis):
  1. Tulisan berwarna (selain warna hitam) umumnya merupakan links yang bisa di-klik.
  2. Setiap akan klik links, pastikan jari tangan kiri Anda menekan tombol Control (Ctrl), lalu pada saat bersamaan (tombol Ctrl tetap ditekan) tangan kanan meng-klik links yang akan Anda buka. Ini dimaksudkan untuk membuka jendela baru dan jendela asal tidak tertutup atau tergantikan dengan links yang baru Anda buka.
  3. Isi blog terbagi dalam beberapa kategori/ Labels (silakan lihat di sisi kiri blog). Klik nama kategori yang ingin Anda kunjungi. Agar lebih paham, silakan klik: Apa Isi Tiap Labels?
  4. Klik Labels (kategori tulisan) yang ingin Anda baca, maka akan muncul tulisan yang ada di dalam Labels posting tersebut.
  5. Angka di belakang tiap nama Labels menunjukkan banyaknya posting dalam Labels tersebut.
  6. Semua data disusun menurut abjad (alfabetis) untuk memudahkan pencarian.
  7. Untuk memperbesar foto, klik pada foto tersebut.
  8. Anda tidak hanya sebagai pembaca blog, Anda dapat berperan aktif mengirimkan data (data yang belum ada, ralat data yang keliru, info terbaru,...) ke penulis via email: hfj2000@gmail.com.
  9. Blog ini merupakan blog pribadi, dimuat atau tidaknya data yang Anda kirim, sepenuhnya merupakan hak penulis.
  10. Data di blog ini penulis kumpulkan dari berbagai sumber (catat sendiri dari buku/ kaset/ CD yang penulis miliki, atau penulis temukan di berbagai tempat, browsing internet dengan bantuan Google), dan tentu saja partisipasi Anda sebagai pengunjung setia blog ini.
  11. Anda ingin tukaran links? Silakan klik: Tukaran Links untuk mengetahui apa manfaat dan bagaimana caranya.
  12. Blog ini berisi info Buddhis, kecuali links BLOG REKOR (ini adalah blog penulis yang berisi info-info umum seperti rekor Muri, sulap, blog ke-2 anak penulis (Dhika & Revata),... kisah inspiratif (yang sangat sayang bila Anda lewatkan!) serta blog DUNIA HERBALKU (ini blog penulis yang menyajikan aneka info tentang herbal untuk menyembuhkan aneka jenis penyakit).
  13. Info apa saja yang tersaji di blog Vihara ini, silakan klik saja: Penjelasan Lengkap Blog Vihara.

NB:

Sementara ini saya memberi kebebasan kepada Anda untuk menuliskan komentar (bebas yang bertanggung jawab ya?). Berikanlah komentar yang sesuai dengan posting yang ada. Harap tidak mengiklankan produk atau jasa Anda di sini karena ini bukan media iklan. Terima kasih atas perhatian Anda.



Blog ini tampil lebih sempurna bila dibuka dengan browser Mozilla Firefox.



Kami Ganti Alamat Email

Sebelumnya email kami: zwei@bdg.centrin.net.id

Sekarang email kami: hfj2000@gmail.com

Jadi semua email tolong dikirim ke alamat yang baru. Terima kasih atas perhatian Anda.



 


Blog ini (www.vihara.blogspot.com) dapat juga diakses melalui alamat singkat:


www.tiny.cc/vihara


 


Ini adalah blog pribadi. Keputusan untuk memuat atau tidak data yang dikirim, sepenuhnya menjadi wewenang kami. Harap maklum. Terima kasih atas perhatian Anda.


* * * * *











Photobucket
Mettacittena,

Hendry Filcozwei Jan
(www.vihara.blogspot.com)
Pusat Info Buddhis


Kata Mutiara Buddhis : "Di dalam hidup ini, sikap orang kepada kita, sikap yang baik maupun yang buruk, ucapan yang ramah atau kasar, semua adalah akibat dari karma lampau kita. Kita tidak bisa memilih atau menghindarinya. Kita hanya bisa membuat semua itu menjadi pelajaran tentang kehidupan, dan kesempatan untuk melatih diri. Kiriman: Budi Priatna, Karawang


Hendry F.Jan & keluarga di tempat wisata Paku Haji.
Atas ke bawah: Hendry, Linda, Dhika & Ray


Hendry F.Jan & keluarga di Bali (Feb 2016)
Belakang: Dhika, Linda, Hendry, depan: Revata (Ray)


Tautan Download Ebook Paritta

Anda butuh Paritta, silakan unduh (download) di tautan berikut. Kami sajikan beberapa tautan (silakan Anda pilih). Selain itu, beberapa tautan ini sebagai antisipasi jika ada tautan yang error/ tidak berfungsi lagi, Anda masih dapat mengunduh dari tautan yang lain. Semoga info ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya... Anda tinggal klik untuk mengunduhnya.

  1. Paritta Suci (Ricky Gunawan Cen)
  2. Paritta Suci (Samaggi Phala)
  3. Paritta Suci (Samaggi Phala)
  4.  
  5.  

Semoga info ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya...


In Memoriam Ibu Parwati Soepangat

Dr. Parwati Soepangat, MA

Ditulis oleh Tatang Gowarman 

Selama kurang lebih 4 tahun saya menjadi asisten beliau di ITB, saat beliau mengajar Agama Buddha dan Etika Buddha. Dan beliau selalu memberikan waktu yang cukup untuk tanya jawab dengan para mahasiswa (saat itu mahasiswa dibebaskan untuk memilih kurikulum agama yang ingin dipelajari, tidak seperti sekarang harus sesuai KTP); sehingga mengikuti kuliah beliau menjadi menarik. 

Berikut ini beberapa catatan apa yang beliau bicarakan di kuliah dan masih membekas bagi saya. Mudah mudahan bermanfaat bagi teman semua. 

KEBEBASAN BERPIKIR DALAM AGAMA BUDDHA
Berbeda dengan sistem kepercayaan/agama yang lain; Buddha mengajarkan untuk tidak menerima begitu saja apa yang beliau ajarkan. Buddha bahkan menganjurkan kepada pengikutnya untuk bertanya, termasuk mempertanyakan apa yang diajarkan. Buddha memberikan kebebasan kepada pengikutnya untuk menerima atau menolak apa yang diajarkan, kepada semua pengikutnya dipersilakan untuk menguji sendiri kebenaran ucapan Beliau, dan jika dianggap cocok dan sejalan dengan pikirannya, dipersilakan untuk mengikuti ajarannya, jika tidak cocok, tidak ada masalah bagi Beliau. 

Salah satu mahasiswa ada yang bertanya: “Jika demikian, umat Buddha tidak memiliki keyakinan terhadap apa yang diajarkan oleh Buddha? Bu Parwati menjawab: ”Siapa yang bilang begitu. Ada keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, tetapi keyakinan itu yang disebut ‘Saddha’, timbul di dalam diri pengikut-Nya setelah memikirkan, merenungkan, dan mencoba melaksanakannya. Bukan dari sekedar mendengar khotbah pemimpin agama yang hebat atau tertulis di Tipitaka; lalu harus percaya begitu saja; itu sama saja percaya dengan membutatuli” 

“Menurut Anda mana yang lebih baik, keyakinan karena percaya begitu saja atas petuah seseorang, atau keyakinan yang timbul setelah dipikirkan, direnungkan dan diuji sendiri? Silakan kalian pikirkan dan renungkan sendiri” 

PERNIKAHAN BEDA AGAMA
Sekitar tahun 1977, sedang banyak diperbincangkan mengenai UU Pernikahan yang mensyaratkan agar pernikahan harus dilakukan oleh pasangan yang sama agamanya. Jika tidak sama, salah satu dari pasangan tersebut harus melepas keyakinannya, UU Pernikahan ini akhirnya disahkan pada tahun 1978. Pertanyaan yang paling banyak mendapat perhatian adalah yang berkaitan dengan pernikahan antara pasangan yang berbeda keyakinan menurut pandangan agama Buddha. 

Dan seperti ciri khas Ibu Parwati yang selalu energik, beliau menjawab dengan berapi-api: “Apa tujuan setiap agama? Bukankah semua agama mengajarkan agar setiap manusia saling menghormati dan saling mengasihi sesama? Nah, ada sepasang manusia yang ingin mewujudkan kasih sayang dalam bentuk pernikahan, mengapa dilarang? Yang melarang siapa? Pemimpin agama? Itu pemimpin agama yang eqois, yang khawatir umatnya berkurang. Sebagai pengikut Buddha saya berpendapat silakan saja menikah walaupun beda agama, keyakinan masing masing adalah tanggung jawab masing-masing.” 

Pertanyaan ini diikuti dengan pertanyaan berikutnya: ”Bagaimana mendidik putra-putrinya kelak, jika ayah dan ibu beda agama, 'kan anak bisa menjadi bingung?”

Jawaban Ibu Parwati sebagai berikut: “Ajarkan kemanusiaan, kasih kepada sesama makhluk, ajarkan kebaikan tanpa membeda-bedakan, ajak ke tempat ibadah orangtua secara bergiliran, dan biarkan anak itu memilih sendiri apa yang akan diyakininya setelah berusia 18 tahun. Bukankah ini kesempatan terbaik untuk mengajarkan dan memberi contoh kepada anak, karakter saling menghargai keyakinan masing-masing, seperti yang dilakukan ayah dan ibunya? Toh jika anak itu sudah dewasa, dia akan bertemu dengan orang dengan latar belakang berbagai keyakinan; jika dia sudah terbiasa dengan perbedaan keyakinan, akan lebih mudah dia menerima perbedaan.” 

KETIDAKADILAN DI DUNIA DAN TUMIMBAL LAHIR
“Bu, bagaimana menurut agama Buddha mengenai ketidakadilan yang ada di dunia ini? Kita lihat misalnya anak-anak yang lahir di Ethiopia, dalam kondisi cacat dan orangtuanya miskin, tidak ada fasilitas kesehatan maupun air bersih; sebaliknya ada yg seperti Pangeran Charles, putra raja, kaya bahkan istrinya pun sangat cantik.”

“Ya memang tidak adil, kalau kalian melihat kehidupan hanya sekali, tetapi dalam agama Buddha ada pengertian tumimbal lahir, atau dilahirkan kembali sesuai karmanya masing- masing. Jika dilihat dengan perspektif itu, maka yang sedang menderita dia sedang menjalani karma buruk akibat perbuatannya sendiri di waktu sebelumnya dan juga sebaliknya seorang yang hidupnya penuh kemudahan, dia sedang menikmati hasil perbuatan karma baiknya.” 

“Kalau begitu, kita biarkan saja toh mereka yang sedang menderita akibat karma buruknya? “
Ngawur itu, justru kita perlu menolong mereka semampu kita, agar penderitaannya berkurang, dan pada saat yang sama kita sedang membentuk karma baik kita sendiri”. 

BUDDHA MENGAJARKAN KITA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB
“Bu, jika umat Buddha berdoa, dia memohon kepada siapa?”
“Umat Buddha berdoa, pertama, untuk menghormati Buddha sebagai Guru Agung yang memberikan ajaran; menghormati Dharma yang menjadi pegangan bagi para pengikut-Nya dalam menjalani kehidupan; menghormati Sangha, yaitu para bhikkhu yang telah mencapai kesucian. Selain itu, membacakan Paritta yang berupa wejangan dari Buddha, yang isinya panutan untuk hidup dengan baik” 

“Jadi, umat Buddha tidak diajarkan untuk meminta-minta, memohon mohon agar keinginannya dikabulkan oleh sesosok Adi Kodrati, Buddha mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri, dan Beliau memberikan petunjuk bagaimana hidup yang baik, dan bagaimana mencapai kesucian.” 

Lha, kalau kalian meminta minta lalu tidak mendapatkan apa yang diminta, kalian lalu menyalahkan Tuhan? Atau menyalahkan diri sendiri kurang banyak doanya gitu? Coba teliti dulu, yang kalian minta itu apa? Sudah berupaya apa untuk mendapatkan apa yang diminta? Baru upaya sedikit sudah ingin dapat hasil? Kuliah nggak pernah hadir, tugas nggak pernah bikin, lalu berdoa siang malam meminta agar ujian bisa lulus?” 

“Manusia hidup itu jangan sedikit-sedikit minta, ada problem sedikit sudah mohon problemnya dhilangkan, itu namanya mental kere (pengemis).”

Dikutip dari FB Ki Ananda

Catatan Hendry Filcozwei Jan:
Saya kenal beliau dan pernah main ke rumah beliau di Jalan Banda, Bandung (waktu itu saya masih bujangan). Masuk ke rumah beliau bagai terdampar ke dalam sebuah perpustakaan. Buku di mana-mana. Melihat begitu banyak karya tulis beliau yang "tercecer", saya lalu minta izin beliau untuk mengumpulkan beberapa tulisan beliau menjadi sebuah buku (kalau tidak salah ingat, judulnya "Setetes Dhamma 3", terbit Mei 2000). Buku ini dibagikan saat beliau menjadi pembicara dalam sebuah seminar.

Ngobrol dengan beliau, saya sangat terkesan dengan kesederhanaan beliau. Pergi mengajar naik angkot, beliau Kartini masa kini, selalu berkebaya, sederhana, bersahaja, dan yang pasti beliau orang yang sangat baik. Beliau vegetarian sejak lahir.

Setelah saya menikah dan punya anak, saya masih sempat beberapa kali bertemu beliau saat perayaan Waisak di Vihara Vimala Dharma, Bandung. 

Salah satu ucapan beliau yang masih penulis ingat saat bicara tentang mahasiswa dan dosen. Beliau sangat terbuka dan menerima siapa saja mahasiswanya yang ingin bertemu dan berkonsultasi. Tidak ada kesan "angker" seorang dosen senior. Kata beliau, "Jika bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit?" 

Selamat jalan Bu Parwati...

Sabbe Sankhara Anicca

Dr. Parwati Soepangat, M.A.

Telah meninggalkan kita semua Ibu Parwati Soepangat (Ketua PP WBI I, beliau merupakan tokoh pendiri Wanita Buddhis Indonesia - WBI) pada hari Minggu, 24 Juli 2016, pukul 17.50 WIB.

Jenazah disemayamkan di rumah almarhumah di Niaga Hijau II No. 32, Pondok Indah.

Kremasi pada Selasa, 26 Juli 2016, pukul 14.00 WIB di Krematorium Oasis, Jatake, Cikupa, Banten.
 
Keluar dari rumah duka pukul 11.00 WIB.

Keluarga Besar
Wanita Buddhis Indonesia.

Info dan foto dari FB Fadly Lie 



Semoga dengan pengabdian dan kebajikan yang telah almarhumah lakukan semasa hidupnya akan menghantar beliau terlahir di alam bahagia hingga mencapai Nibbana. Sadhu...sadhu...sadhu...

Kejagung Tahan Dirjen Bimas Agama Buddha Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Buku


JAKARTA, KOMPAS.com - Kejaksaan Agung menahan Direktur Jenderal Pembinaan Masyarakat Agama Buddha Kementerian Agama.

Penahanan terkait dugaan korupsi pengadaan buku pendidikan agama Buddha dan buku penunjang lainnya untuk tingkat pendidikan anak usia dini, dasar, dan menengah tahun anggaran 2012.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung Arminsyah mengatakan, Dasikin langsung ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka pada hari yang sama.

"Yang bersangkutan pagi hari tadi diperiksa sebagai saksi dan sore ini ditetapkan sebagai tersangka," ujar Arminsyah melalui keterangan tertulis, Senin (27/6/2016) malam.

Dasikin ditahan di rumah tahanan Salemba cabang Kejaksaan Agung untuk 20 hari pertama. Arminsyah mengatakan, dalam kasus ini, Dasikin ikut mengatur proyek pengadaan buku pendidikan agama Buddha.
Bahkan, anggaran dicairkan sebelum proyek ditandatangani Pejabat Pembuat Komitmen. "Sudah diperiksa ternyata cukup dan sangat kuat keterlibatannya," kata Arminsyah.

Arminsyah mengatakan, pidana yang menjerat Dasikin terjadi saat masih menjabat sebagai Sekretaris Dirjen Bimas Agama Buddha Kemenag tahun 2012. Saat itu, anggaran pengadaan buku pendidikan keagamaan itu sekitar Rp 10 miliar.

Namun, Dasikin bersama pejabat Kemenag lainnya bersama-sama melakukan penggelembungan dana dan menyalahgunakan wewenang sehingga timbul kerugian negara sebesar Rp 4.720.618.182.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung telah menjerat lima pelaku lainnya yakni Welton Nadaek selaku Pelaksana Penyedia Barang Putus yang telah divonis 4,5 tahun penjara; Joko Wariyanto selaku mantan Dirjen Bimas Agama Buddha telah divonis 6 tahun penjara; Heru Budi Santoso yang saat itu selaku Dirjen Bimas Agama Buddha divonis 5 tahun penjara; Edi Sriyanto selaku Direktur CV Karunia Jaya divonis 4 tahun penjara; serta Samson Sawangin selaku Direktur CV Samoa Raya divonis 2 tahun penjara.

Arminsyah mengatakan, upaya hukum terhadap Dasikin terhitung lama karena menunggu proses hukum dari lima pelaku lainnya. Karena salah satu terpidana sudah berkekuatan hukum tetap, maka penyidik Kejagung bisa menjerat Dasikin.

"Dengan dikuatkan oleh putusan itu, kami tambah yakin," kata Arminsyah.

Sumber: Kompas

Lomba Karya Tulis Dies Natalis Kamadhis UGM 2016

Anda suka menulis cerpen? Ini ada kabar baik untuk Anda. Kamadhis (Keluarga Mahasiswa Buddhis) UGM mengadakan lomba cerpen. Ini poster lomba-nya...





Info selengkapnya, silakan klik:

Lomba Cerpen Dies Natalis ke-26 Kamadhis UGM


Catatan: 
Lomba cerpen ini diadakan oleh organisasi mahasiswa Buddhis, tapi lomba cerpennya bertema umum, bukan cerpen Buddhis dan terbuka untuk umum.

Ucapan Waisak dari Presiden AS: Barack Obama


Selain Presiden Barack Obama, Gubernur California, Jerry Brown juga mengucapkan Selamat Waisak:



 Sumber: Bhagavant

Ucapan Waisak dari Iwan Fals

Waktu menjelajah YouTube, penulis menemukan ucapan Waisak dari Iwan Fals. Ini bukan ucapan Waisak tahun 2016 (tapi ucapan Waisak pada tahun 2015). Tapi tidak apa-lah, penulis tampilkan di sini. Kapan lagi dapat mendengar ucapan Selamat Waisak dari penyanyi legendaris ini...


Ayo Hadiri Talk Show Ajahn Brahmali

Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar
 
Halo Halo Bandung!
Mari hadiri talk show interaktif bersama AJAHN BRAHMALI dengan tema HAPPY EVERYDAY.

Ajahn Brahmali lahir di Norwegia pada tahun 1964. Setelah menamatkan gelar sarjana teknik dan finansial, beliau memulai latihan monastik sebagai anagarika di Amaravati dan Chithurst Buddhist Monasteries, Inggris.

Pada tahun 1994 beliau pindah ke Wihara Bodhinyana, Serpentine, Australia dan pada tahun 1996 ditahbis menjadi bhikkhu oleh Ajahn Brahm.

Mahathera ini aktif mengajar Pali dan Vinaya. Ceramahnya yang cendekia dan lembut membuat ajaran Buddha menjadi jernih dan dipahami banyak kalangan.

Rabu, 11 Mei 2016, 7-10pm
Blessing Room
BTC Fashion Mall lantai 6
Pasteur, Bandung 
Tiket: Rp30.000

Hubungi:
 
Afi     : 0897 222 0090
Arief : 0895 1009 9383

 
Love You,
EHIPASSIKO FAMILY CLUB BANDUNG
www.ehipassiko.net
STUDI-AKSI-MEDITASI
DHARMA HUMANISTIK

Buku GRATIS Kok Dijual???

Sewaktu online, iseng saja penulis mengetikkan judul buku kumpulan cerpen karya penulis sendiri "Ketika Metta Memilih" di Google. Muncullah hasil pencarian. Penulis lihat satu persatu, dan mata penulis tertuju pada tautan ke TokoPedia. Ini situs menjual barang, artinya buku GRATIS (baca: buku donasi atau buku yang tidakdiperjualbelikan, bagi yang ingin mendapatkan buku ini bisa berdana sukarela ke Ehipassiko) tapi ternyata dijual di TokoPedia.

Benar saja, buku ini dijual oleh Nirvana Gallery yang berlokasi di Jakarta seharga Rp 25.000. Saat tulisan ini dibuat, sudah terjual 3 buku.

Ini tampilan buku "Ketika Metta Memilih" di etalase Nirvana Gallery:


Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar


Komentar Penjual & Pembeli 


Komentar Penjual & Pembeli 


Apakah buku kumpulan cerpen Buddhis "Ketika Metta Memilih" adalah satu-satunya buku gratisan (buku donasi) terbitan Ehipassiko yang dijual? Ternyata tidak. Banyaaak buku donasi (bisa didapat dengan cara berdana sukarela ke Ehipassiko) tapi dijual di TokoPedia.

Salah satunya buku Jataka dengan cover bergambar gajah ini (kedua dari kiri):







Ada 2 penjual yang menawarkan buku ini. Silakan klik tulisan warna biru untuk melihat langsung ke sumbernya (penjualnya di TokoPedia):

  1. Nirvana Gallery menjual buku ini seharga Rp 100.000
  2. Toko Elektronik 3000 menjual buku nini seharga Rp 125.000


Ini screenshot-nya:



Jika Anda iseng, klik ini Ehipassiko (untuk melihat judul buku donasi dari Ehipassiko Fondation) lalu buka browser baru, klik TokoPedia

Cari judul buku donasi di Ehipassiko lalu masukkan judul buku itu di kolom pencarian di TokoPedia. Anda akan menemukan banyak sekali buku donasi yang diperjualbelikan.

Jika Anda peduli akan keberlangsungan penerbitan buku Buddhis, sebaiknya Anda mendanakan sejumlah uang (setidaknya sama dengan harga buku di TokoPedia) ke Ehipassiko untuk mendapatkan buku tersebut. 

Informasikan hal ini ke teman se-Dhamma jika Anda peduli pada penerbitan buku-buku Dhamma. Anumodana... 


Tautan singkat ke tulisan ini:

[Imlek] Warga Muslim Tionghoa Juga Rayakan Imlek


Grup Nasyid Lampion dalam Perayaan Imlek PITI tahun lalu. (*dok: Syarif Tanudjaja)


Warga etnis Tionghoa  harus rela bersabar menghadapi berbagai stereotipe yang melekat pada diri mereka. Tionghoa diidentikkan dengan pedagang, kaya raya, Nasrani, dan masih banyak label lainnya lagi. Tidak salah memang, tapi tak selalu  label tersebut benar. Warga Tionghoa juga ada yang beragama Islam. Uniknya lagi, mereka juga merayakan Tahun Baru Imlek dengan antusias seperti warga Tionghoa pada umumnya.

Hal ini membuat saya sedikit terkejut. Bukankah dalam Islam ada Tahun Baru Hijriyah? Apakah tidak apa-apa bila mereka merayakan Tahun Baru Imlek? Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DPW Jakarta, Syarif Tanudjaja, berbaik hati menjawab pertanyaan-pertanyaan saya itu.

"Tahun Baru Imlek itu bukan perayaan agama, itu lebih ke tradisi kami (warga etnis Tionghoa). Memang kami sudah berpindah agama, tapi itu bukan berarti harus kehilangan akar budaya dan tradisi," tutur Pak Syarif dengan ramah.

Saya pun teringat bahwa dalam masa Perayaan Imlek terdapat tradisi bersih-bersih patung dewa, salah satu di antaranya adalah dengan mengoleskan madu pada mulut patung dewa dapur. Tujuannya adalah agar pada saat dewa datang ke dapur itu dan melihatnya, dia akan melaporkan hal yang baik-baik (ke kahyangan) tentang rumah tersebut.

Perihal ini, Pak Syarif menjelaskan bahwa tentunya masyarakat Muslim Tionghoa tidak menjalankan tradisi atau ritual seperti itu. Imlek mereka  rayakan sebagai bagian dari pemeliharaan tradisi penyambutan musim semi  yang sudah sejak ribuan tahun lalu dirayakan oleh leluhur mereka.

"Banyak yang masih berpikir bahwa Imlek itu ritual agama tertentu, makanya mungkin heran juga (melihat kami merayakannya). Imlek selama ini  identik dengan Konghucu, apalagi karena penanggalan tahunnya (berdasarkan tahun kelahirannya). Tapi sebenarnya kalau mau tahu sejarahnya, itu sudah dirayakan jauh sebelum Konghucu lahir, sudah 4.000-an tahun yang lalu. Jadi Imlek bukan perayaan agama," terang Pak Syarif.

Ketua PITI DPW Jakarta Syarif Tanudjaja

Tahun ini, kata Pak Syarif, PITI Jakarta akan kembali merayakan Imlek. Ini merupakan tahun kedua perayaannya, setelah perayaan tahun lalu mendapat sambutan cukup meriah dari warga Muslim Tionghoa. Bila kebanyakan orang Tionghoa merayakannya tepat pada 23 Januari atau paling lama 3-4 hari setelah hari H, maka PITI sedikit lebih lama daripada biasanya. Perayaan Imlek bersama ditetapkan pada 5 Februari, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Kita ingin mewujudkan perayaan Imlek supaya menjadi lebih bermakna, terutama bagi kaum Muslim Tionghoa. Kita ingin ini bersamaan dengan hari  besar umat Muslim. Ini juga sekaligus menunjukkan asimilasi antara budaya Tionghoa dengan agama Islam berjalan dengan damai," ungkapnya.

Percakapan saya dengan Pak Syarif hari itu pun ditutup dengan harapan beliau agar melalui acara ini nanti, cita-cita dan harapan PITI bisa terwujud. Apakah gerangan cita-cita tersebut?

"Kami ingin menjadi jembatan antara golongan Tionghoa dengan golongan non-Tionghoa. Supaya hilang semua anggapan bahwa kami ini hanya sebagai pendatang saja, kami ini juga anak Nusantara. Kami Mualaf, tapi kami tidak lupa akar dan dari mana asal kami. Semoga makin banyak kelompok  yang bisa kami persatukan di sini," tutupnya.

Semoga, Pak. Saya doakan semoga segera terwujud harapannya.

Selamat Tahun Baru Imlek. Xin Nian Kuai Le. :)
  





Catatan penulis (Hendry  Filcozwei Jan):

Jadi teringat saat SMA dulu. Beberapa teman (yang juga keturunan Tionghoa) bertanya, "Kamu merayakan Imlek?"
Penulis jawab "Iya..."
"Kalau saya tidak, saya merayakan XXX (hari raya agamanya -red)."

Penulis hanya tersenyum saja mendengar jawabannya.


Di lain waktu, penulis ditanya teman lain, masih dengan pertanyaan sama. Kali ini jawaban penulis lain, "Nggak, saya merayakan Waisak..."

Hehehe... Padahal jelas-jelas nama perayaannya Tahun Baru Imlek, merayakan tahun baru berdasarkan kalender Tiongkok (bukan perayaan kelahiran Sidharta Gautama atau yang lain).

Kalaupun pada akhirnya, setelah Konghucu juga dinyatakan sebagai agama resmi di Indonesia dan umat Konghucu merayakan hari besarnya bersamaan dengan Tahun Baru Imlek, itu bukan berarti perayaan Tahun Baru Imlek adalah perayaan agama tertentu.

Sekali lagi, perayaan Tahun Baru Imlek adalah perayaan menyambut musim semi (menyambut tahun baru atau 1 Januari versi Tiongkok). Tahun Baru Imlek adalah tradisi atau budaya, bukan perayaan agama. Bagi warga keturunan Tionghoa, mau merayakan, silakan, tidak pun tidak jadi masalah. Tapi sekali lagi, bukan perayaan hari besar agama.


Menurut penulis, pindah agama tidak serta merta mengubah etnis/suku-nya. Perayaan Imlek, barongsay, bahasa Mandarin, bukan milik agama tertentu, tapi budaya Tiongkok. Boleh saja tetap dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa di mana pun mereka berada, apa pun agama mereka (tapi sekali lagi bukan keharusan dan bukan perayaan hari besar agama).

Anda keturunan Tionghoa, ketika mengalami kecelakaan dan mendapat transfusi darah sangat banyak dan pendonornya misalkan saja orang Jawa, itu tidak berarti Anda sekarang jadi orang Jawa. Jika pendonor Anda seorang keturunan ningrat (berdarah biru), Anda juga tidak serta merta jadi keturunan ningrat.

Anda keturunan Tionghoa, pindah dan menetap di negara mana pun, pindah ke agama apa pun, toh... Anda tetap orang keturunan Tionghoa. Ini tidak ada kaitan dengan tidak setia kepada negara tempat Anda tinggal. WNI (Warga Negara Indonesia) keturunan Tionghoa, mereka setia kepada negara Indonesia, meski tidak melupakan budaya leluhur. Jangan ragukan kecintaan Tan Joe Hok, Liem Swie King, Yap Thian Hien, Soe Hok Gie, dan yang lain pada tanah air tercinta, Indonesia, hanya karena label atau nama yang melekat pada mereka masih nama Tionghoa yang terdiri dari 3 suku kata. 

Soal bahasa? Orang Indonesia yang pindah jadi warga negara lain (karena menikah dengan warga negara tersebut, atau pindah warga negara karena alasan lain), banyak di antara mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia. 

Orang Jawa di lingkungannya menggunakan bahasa Jawa, orang Batak di perantauan bertemu teman sesama orang Batak menggunakan bahasa Batak, di perantauan, orang Padang saat makan di rumah makan Padang dan ngobrol dengan pemiliknya yang sama-sama orang Minang menggunakan bahasa Padang, orang Indonesia keturunan Tionghoa menggunakan bahasa Mandarin dengan sesama-nya, tidak ada yang aneh. Ketika berbicara dengan orang yang berbeda suku, otomatis kita menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Barongsay juga begitu, hanya budaya/ kesenian, bukan soal agama. Penulis gembira melihat atraksi barongsay yang bisa jadi ajang pembauran. Pemain barongsay bukan hanya dari keturunan Tionghoa, tapi juga dari suku Jawa, Sunda, dan lainnya. Tidak ada yang aneh ketika yang bermain barongsay atau memainkan alat musik pengiring barongsay bukan orang keturunan Tionbghoa. Toh... orang Indonesia ada yang belajar dansa, tari balet, tari tango, salsa, belajar parkour, belajar karate, jiujitsu, taekwondo (dan juga tak ada salahnya belajar kungfu dan wushu). Anda boleh belajar budaya/ kesenian lain, tanpa harus pindah agama kok.