In Memoriam Ibu Parwati Soepangat

Dr. Parwati Soepangat, MA

Ditulis oleh Tatang Gowarman 

Selama kurang lebih 4 tahun saya menjadi asisten beliau di ITB, saat beliau mengajar Agama Buddha dan Etika Buddha. Dan beliau selalu memberikan waktu yang cukup untuk tanya jawab dengan para mahasiswa (saat itu mahasiswa dibebaskan untuk memilih kurikulum agama yang ingin dipelajari, tidak seperti sekarang harus sesuai KTP); sehingga mengikuti kuliah beliau menjadi menarik. 

Berikut ini beberapa catatan apa yang beliau bicarakan di kuliah dan masih membekas bagi saya. Mudah mudahan bermanfaat bagi teman semua. 

KEBEBASAN BERPIKIR DALAM AGAMA BUDDHA
Berbeda dengan sistem kepercayaan/agama yang lain; Buddha mengajarkan untuk tidak menerima begitu saja apa yang beliau ajarkan. Buddha bahkan menganjurkan kepada pengikutnya untuk bertanya, termasuk mempertanyakan apa yang diajarkan. Buddha memberikan kebebasan kepada pengikutnya untuk menerima atau menolak apa yang diajarkan, kepada semua pengikutnya dipersilakan untuk menguji sendiri kebenaran ucapan Beliau, dan jika dianggap cocok dan sejalan dengan pikirannya, dipersilakan untuk mengikuti ajarannya, jika tidak cocok, tidak ada masalah bagi Beliau. 

Salah satu mahasiswa ada yang bertanya: “Jika demikian, umat Buddha tidak memiliki keyakinan terhadap apa yang diajarkan oleh Buddha? Bu Parwati menjawab: ”Siapa yang bilang begitu. Ada keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, tetapi keyakinan itu yang disebut ‘Saddha’, timbul di dalam diri pengikut-Nya setelah memikirkan, merenungkan, dan mencoba melaksanakannya. Bukan dari sekedar mendengar khotbah pemimpin agama yang hebat atau tertulis di Tipitaka; lalu harus percaya begitu saja; itu sama saja percaya dengan membutatuli” 

“Menurut Anda mana yang lebih baik, keyakinan karena percaya begitu saja atas petuah seseorang, atau keyakinan yang timbul setelah dipikirkan, direnungkan dan diuji sendiri? Silakan kalian pikirkan dan renungkan sendiri” 

PERNIKAHAN BEDA AGAMA
Sekitar tahun 1977, sedang banyak diperbincangkan mengenai UU Pernikahan yang mensyaratkan agar pernikahan harus dilakukan oleh pasangan yang sama agamanya. Jika tidak sama, salah satu dari pasangan tersebut harus melepas keyakinannya, UU Pernikahan ini akhirnya disahkan pada tahun 1978. Pertanyaan yang paling banyak mendapat perhatian adalah yang berkaitan dengan pernikahan antara pasangan yang berbeda keyakinan menurut pandangan agama Buddha. 

Dan seperti ciri khas Ibu Parwati yang selalu energik, beliau menjawab dengan berapi-api: “Apa tujuan setiap agama? Bukankah semua agama mengajarkan agar setiap manusia saling menghormati dan saling mengasihi sesama? Nah, ada sepasang manusia yang ingin mewujudkan kasih sayang dalam bentuk pernikahan, mengapa dilarang? Yang melarang siapa? Pemimpin agama? Itu pemimpin agama yang eqois, yang khawatir umatnya berkurang. Sebagai pengikut Buddha saya berpendapat silakan saja menikah walaupun beda agama, keyakinan masing masing adalah tanggung jawab masing-masing.” 

Pertanyaan ini diikuti dengan pertanyaan berikutnya: ”Bagaimana mendidik putra-putrinya kelak, jika ayah dan ibu beda agama, 'kan anak bisa menjadi bingung?”

Jawaban Ibu Parwati sebagai berikut: “Ajarkan kemanusiaan, kasih kepada sesama makhluk, ajarkan kebaikan tanpa membeda-bedakan, ajak ke tempat ibadah orangtua secara bergiliran, dan biarkan anak itu memilih sendiri apa yang akan diyakininya setelah berusia 18 tahun. Bukankah ini kesempatan terbaik untuk mengajarkan dan memberi contoh kepada anak, karakter saling menghargai keyakinan masing-masing, seperti yang dilakukan ayah dan ibunya? Toh jika anak itu sudah dewasa, dia akan bertemu dengan orang dengan latar belakang berbagai keyakinan; jika dia sudah terbiasa dengan perbedaan keyakinan, akan lebih mudah dia menerima perbedaan.” 

KETIDAKADILAN DI DUNIA DAN TUMIMBAL LAHIR
“Bu, bagaimana menurut agama Buddha mengenai ketidakadilan yang ada di dunia ini? Kita lihat misalnya anak-anak yang lahir di Ethiopia, dalam kondisi cacat dan orangtuanya miskin, tidak ada fasilitas kesehatan maupun air bersih; sebaliknya ada yg seperti Pangeran Charles, putra raja, kaya bahkan istrinya pun sangat cantik.”

“Ya memang tidak adil, kalau kalian melihat kehidupan hanya sekali, tetapi dalam agama Buddha ada pengertian tumimbal lahir, atau dilahirkan kembali sesuai karmanya masing- masing. Jika dilihat dengan perspektif itu, maka yang sedang menderita dia sedang menjalani karma buruk akibat perbuatannya sendiri di waktu sebelumnya dan juga sebaliknya seorang yang hidupnya penuh kemudahan, dia sedang menikmati hasil perbuatan karma baiknya.” 

“Kalau begitu, kita biarkan saja toh mereka yang sedang menderita akibat karma buruknya? “
Ngawur itu, justru kita perlu menolong mereka semampu kita, agar penderitaannya berkurang, dan pada saat yang sama kita sedang membentuk karma baik kita sendiri”. 

BUDDHA MENGAJARKAN KITA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB
“Bu, jika umat Buddha berdoa, dia memohon kepada siapa?”
“Umat Buddha berdoa, pertama, untuk menghormati Buddha sebagai Guru Agung yang memberikan ajaran; menghormati Dharma yang menjadi pegangan bagi para pengikut-Nya dalam menjalani kehidupan; menghormati Sangha, yaitu para bhikkhu yang telah mencapai kesucian. Selain itu, membacakan Paritta yang berupa wejangan dari Buddha, yang isinya panutan untuk hidup dengan baik” 

“Jadi, umat Buddha tidak diajarkan untuk meminta-minta, memohon mohon agar keinginannya dikabulkan oleh sesosok Adi Kodrati, Buddha mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri, dan Beliau memberikan petunjuk bagaimana hidup yang baik, dan bagaimana mencapai kesucian.” 

Lha, kalau kalian meminta minta lalu tidak mendapatkan apa yang diminta, kalian lalu menyalahkan Tuhan? Atau menyalahkan diri sendiri kurang banyak doanya gitu? Coba teliti dulu, yang kalian minta itu apa? Sudah berupaya apa untuk mendapatkan apa yang diminta? Baru upaya sedikit sudah ingin dapat hasil? Kuliah nggak pernah hadir, tugas nggak pernah bikin, lalu berdoa siang malam meminta agar ujian bisa lulus?” 

“Manusia hidup itu jangan sedikit-sedikit minta, ada problem sedikit sudah mohon problemnya dhilangkan, itu namanya mental kere (pengemis).”

Dikutip dari FB Ki Ananda

Catatan Hendry Filcozwei Jan:
Saya kenal beliau dan pernah main ke rumah beliau di Jalan Banda, Bandung (waktu itu saya masih bujangan). Masuk ke rumah beliau bagai terdampar ke dalam sebuah perpustakaan. Buku di mana-mana. Melihat begitu banyak karya tulis beliau yang "tercecer", saya lalu minta izin beliau untuk mengumpulkan beberapa tulisan beliau menjadi sebuah buku (kalau tidak salah ingat, judulnya "Setetes Dhamma 3", terbit Mei 2000). Buku ini dibagikan saat beliau menjadi pembicara dalam sebuah seminar.

Ngobrol dengan beliau, saya sangat terkesan dengan kesederhanaan beliau. Pergi mengajar naik angkot, beliau Kartini masa kini, selalu berkebaya, sederhana, bersahaja, dan yang pasti beliau orang yang sangat baik. Beliau vegetarian sejak lahir.

Setelah saya menikah dan punya anak, saya masih sempat beberapa kali bertemu beliau saat perayaan Waisak di Vihara Vimala Dharma, Bandung. 

Salah satu ucapan beliau yang masih penulis ingat saat bicara tentang mahasiswa dan dosen. Beliau sangat terbuka dan menerima siapa saja mahasiswanya yang ingin bertemu dan berkonsultasi. Tidak ada kesan "angker" seorang dosen senior. Kata beliau, "Jika bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit?" 

Selamat jalan Bu Parwati...

0 comments: