Tipitaka Harian 045, Dhammapada 223; Cerita Upāsikā Uttarā

 


Di Sāvatthī hiduplah seorang hartawan yang bernama Sumana. Ia memiliki seorang pelayan bernama Punna.

Suatu ketika setelah Punna dan istrinya mendermakan makanan kepada Āyasmā Sāriputta, mereka menemukan emas di ladang yang tengah digarapnya. Raja lalu mengangkatnya menjadi bendahara istana. Keluarganya menjadi kaya raya dan berpengaruh.

Suatu ketika setelah bederma dan mendengarkan pembabaran Dhamma dari Buddha, Punna, istrinya, dan putri mereka Uttarā, mencapai kesucian Yang Masuk Arus.

Uttarā menikah dengan putra Sumana. Karena keluarga Sumana bukan penganut Buddha, Uttarā tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kebajikan.

Akhirnya Punna mengirimkan uang kepada Uttarā. Setelah mendapat izin suaminya, Uttarā menggunakan uang itu untuk menyewa wanita penghibur bernama Sirimā untuk menggantikannya sebagai istri selama 15 hari.

Sementara itu, Uttarā mendermakan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu. Ketika suaminya melihat hal ini, sang suami tersenyum karena tidak memahami pentingnya bederma. Suaminya ini menganggap Uttarā dungu.

Namun, melihatnya tersenyum terhadap Uttarā, Sirimā, wanita penghibur itu menjadi cemburu. Sirimā lalu membawa minyak panas untuk dituangkan ke kepala Uttarā.

Ketika Sirimā menuangkan minyak panas kepadanya, Uttarā berseru, “Jika aku memiliki maksud buruk terhadap Sirimā, biarlah minyak panas ini melukaiku. Namun jika aku tak bermaksud buruk terhadapnya, minyak panas ini tak akan melukaiku!”

Minyak panas yang dituangkan ke kepalanya itu pun terasa bagaikan air dingin dan tidak melukainya.

Para pelayan Uttarā menyerang dan memukul Sirimā. Uttarā menghentikan para pelayannya dan mengobati luka Sirimā.

Sirimā lalu menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Segera ia mohon maaf dari Uttarā. Uttarā meminta Sirimā untuk menjumpai “ayahnya”, maksudnya adalah Buddha, yang telah mengajarkan Dhamma kepadanya.

Setelah mendengar apa yang terjadi, Buddha memuji Uttarā karena tidak marah ataupun benci. Buddha lalu melantunkan bait ini. Pada akhir pembabaran ini, Sirimā dan banyak wanita di sana mencapai kesucian Yang Masuk Arus.
____

Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

0 komentar: