Di Sāvatthī hiduplah seorang hartawan yang bernama Sumana. Ia memiliki seorang pelayan bernama Punna.
Suatu
ketika setelah Punna dan istrinya mendermakan makanan kepada Āyasmā
Sāriputta, mereka menemukan emas di ladang yang tengah digarapnya. Raja
lalu mengangkatnya menjadi bendahara istana. Keluarganya menjadi kaya
raya dan berpengaruh.
Suatu ketika setelah bederma dan
mendengarkan pembabaran Dhamma dari Buddha, Punna, istrinya, dan putri
mereka Uttarā, mencapai kesucian Yang Masuk Arus.
Uttarā menikah
dengan putra Sumana. Karena keluarga Sumana bukan penganut Buddha,
Uttarā tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kebajikan.
Akhirnya
Punna mengirimkan uang kepada Uttarā. Setelah mendapat izin suaminya,
Uttarā menggunakan uang itu untuk menyewa wanita penghibur bernama
Sirimā untuk menggantikannya sebagai istri selama 15 hari.
Sementara
itu, Uttarā mendermakan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu. Ketika
suaminya melihat hal ini, sang suami tersenyum karena tidak memahami
pentingnya bederma. Suaminya ini menganggap Uttarā dungu.
Namun,
melihatnya tersenyum terhadap Uttarā, Sirimā, wanita penghibur itu
menjadi cemburu. Sirimā lalu membawa minyak panas untuk dituangkan ke
kepala Uttarā.
Ketika Sirimā menuangkan minyak panas kepadanya,
Uttarā berseru, “Jika aku memiliki maksud buruk terhadap Sirimā, biarlah
minyak panas ini melukaiku. Namun jika aku tak bermaksud buruk
terhadapnya, minyak panas ini tak akan melukaiku!”
Minyak panas yang dituangkan ke kepalanya itu pun terasa bagaikan air dingin dan tidak melukainya.
Para pelayan Uttarā menyerang dan memukul Sirimā. Uttarā menghentikan para pelayannya dan mengobati luka Sirimā.
Sirimā
lalu menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Segera ia mohon maaf
dari Uttarā. Uttarā meminta Sirimā untuk menjumpai “ayahnya”, maksudnya
adalah Buddha, yang telah mengajarkan Dhamma kepadanya.
Setelah
mendengar apa yang terjadi, Buddha memuji Uttarā karena tidak marah
ataupun benci. Buddha lalu melantunkan bait ini. Pada akhir pembabaran
ini, Sirimā dan banyak wanita di sana mencapai kesucian Yang Masuk Arus.
____
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda
Sumber: Ehipassiko Foundation
0 komentar:
Posting Komentar