Cerpen Buddhis: Mengenangmu ....

Jaya Ratana


Jalan raya di depanku tampak mulai ramai. Aku duduk sendiri di bangku berbahan semen yang disediakan untuk mereka yang menunggu angkot, angkutan kota. Aku bukan sedang menunggu angkot, aku baru saja turun dari ojol. Duduk sendiri menunggu mal buka. Mungkin masih sekitar 1 jam lagi mal baru buka. Aku memang datang agak kepagian, meski aku sudah tau mal belum buka.

Fajar yang dingin membangunkanku. Di luar kamar masih terdengar rintik air hujan. Aku segera bangun, mandi, dan bergegas akan pergi. Sandra, sepupuku membuka pintu kamarnya ketika aku pamit. Tampaknya Sandra masih belum sadar sepenuhnya. “Henny, mal belum buka sepagi ini,” Sandra mengingatkanku. “Sekalian mau jalan-jalan dulu menikmati udara pagi,” jawabku.

Hmmm … aku tidak jujur kepada Sandra. Tidurku tak nyenyak. Aku ingin segera sampai ke mal ini. Untuk apa? Hanya untuk napak tilas perjalananku dengan Dita, sahabat terbaikku. Di sini, di mal inilah kami berkenalan. Di sinilah kami sering menghabiskan waktu sepulang dari pujabakti di vihāra.

Waktu itu kami secara tak sengaja ‘bertabrakan’ saat sedang berjalan di dalam mal. Setelah saling mengucap kata, “Maaf,’ kami baru menyadari, ternyata kami satu vihāra. Kami saling mengenal wajah tapi tak pernah berkenalan secara langsung sehingga kami tak saling kenal nama. Dulu, dalam hati aku ingin sekali berkenalan, tapi aku tak pernah memulainya.

Singkat kata, sejak insiden kecil tak disengaja itu, kami berkenalan dan akhirnya akrab. Setiap selesai pujabakti di vihāra, kami berjalan kaki menuju mal ini. Vihāra tempat kami pujabakti memang sangat dekat dengan mal ini, salah satu mal tertua di kota ini.

Iya, sejak saat itu aku dan Dita jadi sahabat. Kami sama-sama orang perantauan. Aku kuliah di kota ini, Dita bekerja di kota ini. Dita berasal dari Bekasi, aku dari Palembang. Umur kami sama.

Kami seperti tak terpisahkan. Entah mengapa, meski belum lama mengenalnya, aku cepat akrab dengannya. Kami seperti teman lama yang baru bertemu lagi. Dita pun merasakan hal yang sama. Mungkinkah di kehidupan lampau kami memang bersahabat? Mungkin saja kami sahabat, saudara kandung, atau anak dan orang tua, nggak ada yang tau.
 
Dita langsung bekerja setelah menyelesaikan SMA-nya. Aku kuliah di kota yang sama. Sejak kenal dengan Dita, aku lebih ceria. Sebenarnya aku pendiam dan introvert, akhirnya punya sahabat yang jadi teman untuk berbagi cerita dan curhat. Kami punya satu kesamaan, sama-sama anak tunggal. Hanya saja, aku masih memiliki orang tua lengkap, Dita yatim piatu.

Selesai kuliah, aku melanjutkan ke S2 ke Australia. Kami terus berhubungan via WA dan video call. Akhir tahun lalu, tiba-tiba saja aku mendapat kabar dari sepupunya, Dita telah pergi untuk selamanya. Saat itu aku memang tak berencana berlibur ke Indonesia karena banyak tugas yang harus aku kerjakan. Aku coba usahakan untuk pulang, tapi aku tak mendapatkan tiket karena memang high season, menjelang Natal dan tahun baru. Aku hanya bisa menangis sendiri di kamarku.

Tahun ini aku kembali ke Indonesia. Kusempatkan mampir ke mal tempat kami biasa menghabiskan waktu bersama. Hanya ini yang bisa kulakukan, mengenang semua kebersamaan yang begitu indah. Dita, aku tak tau harus ke mana menemuimu. Kau dikremasi dan abumu dilarung di Pantai Ancol. Tak ada makam, tak ada nisan.

Iya, semua yang ada di dunia ini tak ada yang abadi. Factory outlet di seberang mal ini, tempat Dita membelikanku jaket sebelum aku berangkat, sekarang sudah tutup. Resto fast food ayam goreng tempat aku mentraktir Dita yang berulang tahun juga sudah bangkrut. Bukan hanya itu, Dita, sahabat terbaikku pun sudah tak ada. “Aku kangen kamu Dita ….”

Gate gate pāragate pārasaṃgate bodhi svāhā - menyeberang, menyeberang, menyeberanglah sampai ke pantai seberang.

Kulihat pintu mal telah dibuka, aku berdiri, lalu melangkahkan kaki, aku seolah memasuki lorong waktu. Berjalan sendiri, mengenang semua tempat yang pernah kami kunjungi dengan segala cerita indah yang pernah kami jalani bersama.

*  *  *  *  *

“Mengenang seorang sahabat terbaikku yang telah pergi. Semua kenangan tentang kebaikanmu, kepedulianmu, dan kedermawananmu selalu jadi inspirasi hidupku.”


Dikutip dari Buletin KCBI edisi Desember 2023 halaman 41/42 karya Jaya Ratana (penulis bisa dihubungi dengan cara klik tulisan nama penulisnya).

0 komentar: