Perjalananku Bersama Puisi Buddhis: Dari Halaman Buku ke Layar Digital

Oleh Latifah

Ingin ku berparita
Kepada pasien-pasien di rumah sakit
Agar nada getarannya
Meringankan penderitaan penyakitnya

Ingin ku berparita
Untuk mereka yang gugur di medan perang
Agar nada getarannya
Membawanya ke alam bahagia

Ingin kubagikan bingkisan
Kepada tunawisma di malam waisak
Agar berkah suci bulan purnama
Memberinya sedikit kebahagiaan

Ingin kubagikan bingkisan
Kepada anggota sangha di hari kathina
Agar berkah suci persembahan jubah
Melapangkan jalannya menuju pembebasan

Puisi karya Pak Jo Priastana yang termuat dalam Satu Buddha: Puisi-Puisi Buddhis karya Jo Priastana, terbitan 2010 ini menjadi pintu yang membuka perkenalan saya dengan puisi Buddhis. Puisi ini mengajarkan saya makna cinta kasih (mettā) yang sesungguhnya. Sisi kemanusiaan memang selalu bisa menembus batas institusi religi.  Pengalaman spiritual itu universal, tidak perlu seiman untuk bisa merasakan kedalaman pesan moral sebuah karya religius. Bahwa melafalkan paritta bukan sekadar ritual yang berhenti pada diri sendiri. Bahwa berkah bulan purnama di hari Waisak bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi justru paling bermakna ketika dibagikan kepada mereka yang paling membutuhkan, seperti para tunawisma yang mungkin tak pernah menginjakkan kaki di vihara. Dalam Islam pun ada konsep sedekah yang pahalanya nggak putus, mirip dengan konsep ‘berbagi berkah’ yang ditulis Pak Jo. Beliau mengajarkan saya bahwa doa yang hanya untuk diri sendiri itu seperti lilin yang tidak pernah dinyalakan—ada, tapi tak memberi cahaya.

Saya teringat pada ajaran Buddha tentang muditā (turut berbahagia) dan karuṇā (belas kasih). Jo Priastana dengan brilian menerjemahkan konsep-konsep luhur ini ke dalam bahasa yang begitu sederhana namun menggedor kesadaran. Ia bahkan melampaui batas kemanusiaan biasa—mendoakan mereka yang gugur di medan perang, berharap getaran doa bisa membawa mereka ke alam bahagia. Inilah Buddhadharma yang tidak diskriminatif, yang tidak hanya memikirkan yang hidup, tetapi juga yang telah berpulang. Pak Jo mungkin tak akan menyangka kalau puisinya dibaca sampai sedalam ini—apalagi oleh seorang Muslimah. Tapi justru di situlah letak keajaiban puisi: dia tidak pilih-pilih siapa yang boleh tersentuh.

Refleksi saya atas puisi-puisi Jo Priastana dalam antologi Satu Buddha—yang tidak hanya indah secara estetis tetapi juga sarat nilai kemanusiaan—saya tuangkan dalam paper untuk Borobudur Writers and Cultural Festival 2019. Bagi saya, puisi-puisi ini adalah perwujudan nyata dari apa yang Pak Jo tulis dalam bukunya Etika Buddha: bahwa mutu pribadi seseorang ditentukan oleh kemampuannya mengindahkan dan mengolah kepentingan lingkungan. Dengan kata lain, puisi-puisinya menjadi “pengolahan kepentingan lingkungan” dengan cara yang indah.

Melompat ke Dunia Digital
Tahun 2025 saya menulis paper lagi. Kali ini judulnya “Buddhist Poetry as Digital Practice”. Bedanya, sekarang saya tidak cuma lihat puisi dalam bentuk buku, tapi juga bagaimana puisi-puisi Buddhis “hidup” di dunia digital—blog, YouTube, TikTok.

Perjalanan penelitian ini seru sekali. Saya jadi tahu kalau ternyata puisi Buddhis itu tidak mati di era digital. Justru dia berkembang dengan cara-cara baru.

Di blog, saya menemukan lagi puisi-puisi Hendry Filcozwei Jan. Yang bikin saya terkesima adalah puisi “Seribu Hari…” yang dipublikasikan tepat pada hari ke-1000 setelah kematian istrinya. Bayangkan, seseorang menghitung hari, menulis puisi, dan mempublikasikannya di blog sebagai bentuk ritual mengenang. Menurut saya, ini luar biasa. Di dunia nyata mungkin kita tak selalu bisa datang ke makam atau melakukan ritual bersama, tapi di dunia digital, ritual itu bisa dilakukan—dan diakses kapan saja oleh siapa saja.

Di YouTube, saya menemukan video “Puisi Waisak” karya Jo Priastana yang diunggah channel PERGABI. Di sini, puisi dibacakan dengan latar gambar perayaan Waisak dan musik meditatif. Bukan cuma dibaca, tapi dihayati oleh para remaja. Saya nonton video ini berulang kali, dan setiap kali itu saya merasa ikut “merayakan” Waisak—meskipun saya bukan Buddha.

Di TikTok, saya menemukan akun @buddhistworship yang membagikan puisi-puisi pendek, termasuk “Puja Kepada Sangha”. Di platform yang isinya kebanyakan joget-joget dan lipsync, puisi Buddhis bisa punya tempat. Komentarnya mungkin nggak banyak, tapi video-nya disimpan, dibagikan, di-duet. Ini bentuk partisipasi yang beda, tapi nyata.

Yang Saya Pelajari dari Perjalanan Ini
Setelah bertahun-tahun bergulat dengan puisi Buddhis—dari membaca untuk kesenangan pribadi sampai menelitinya secara akademis—saya belajar beberapa hal:

Pertama, agama itu bisa hadir dalam bentuk yang indah. Selama ini kita sering membicarakan agama dalam bahasa yang kaku, doktrinal, kadang malah menakutkan. Puisi mengingatkan bahwa agama juga bisa hadir dalam keindahan, dalam metafora, dalam bahasa yang menyentuh hati.

Kedua, duka itu universal. Saya seorang Muslim, Hendry Filcozwei Jan seorang Buddhis, tapi kami berdua mengalami perasaan yang sama saat kehilangan  makhluk yang kami cintai. Puisi “Anicca” dan “Seribu Hari…” mengajarkan saya bahwa duka tidak kenal agama. Dan yang lebih penting: duka bisa diolah menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.

Ketiga, teknologi itu netral, tapi yang penting isinya. Ada banyak kalangan yang  skeptis awalnya terhadap media sosial. Tapi melihat bagaimana puisi Buddhis bisa bertahan dan bahkan berkembang di blog, YouTube, dan TikTok, mendorong kita  berpikir ulang. Yang penting bukan mediumnya, tapi apa yang kita sampaikan lewat medium itu.

Keempat, dialog antaragama itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana.  Saya belajar tentang Buddha dari puisi-puisi Pak Jo. Saya mendalami konsep anicca dari puisi Hendry. Saya merasakan semangat Kathina dari TikTok @buddhistworship. Dialog antaragama tidak harus selalu dalam forum resmi; bisa juga lewat puisi yang kita baca sebelum tidur.

Epillog: “Satu Buddha” dan Satu Kemanusiaan
Beasiswa adalah
Ada satu puisi lagi dari Pak Jo yang nggak kalah penting. Judulnya “Satu Buddha”. Bunyinya:

Bukan seribu Buddha
Bukan juga seratus
Cukuplah satu
Satu Buddha dalam hatiku

Dulu saya berpikir, “Satu Buddha dalam hatiku” itu berarti penulisnya memilih untuk fokus pada esensi ajaran Buddha, bukan pada sekte atau aliran. Tapi setelah saya baca ulang, saya punya interpretasi lain.

Mungkin “Satu Buddha” itu bukan cuma soal agama Buddha. Mungkin “Satu Buddha” itu simbol dari satu kemanusiaan yang kita semua punya. Di tengah perbedaan agama, suku, dan pandangan, sebenarnya kita semua punya “satu hati” yang sama—yang bisa tersentuh oleh keindahan, yang bisa terluka oleh kehilangan, yang bisa sembuh oleh kasih sayang.

Dan puisi, bagi saya, adalah jembatan yang menghubungkan “satu Buddha” di hati saya dengan “satu Buddha” di hati orang lain—entah mereka Buddha, Islam, Kristen, atau apa pun.

Sumber: Srikandi Lintas Iman 

Walk for Peace

Para bhikkhu (biksu) berjalan kaki dalam misi perdamaian.
Bisa lihat cerita lengkap perjalanan mereka di:
 
 
 

 

Buddhist monks are walking 2300 miles (3700 km)
from Texas to DC for one simple goal - PEACE.🕊
 

Untuk nonton videonya silakan klik: Google Drive atau InstaGram

 

Lirik lagu Heal The World 

There's a place in your heart
(Ada sebuah tempat di hatimu)

And I know that it is love
(Dan aku tahu tempat itu adalah cinta)

And this place could be much
(Dan tempat ini bisa jadi)

Brighter than tomorrow
(Jauh lebih terang dari hari esok)

And if you really try
(Dan jika kau benar-benar berusaha)

You'll find there's no need to cry
(Kau kan temukan bahwa tak ada perlunya menangis)

In this place you'll feel
(Di tempat ini kau kan merasa)

There's no hurt or sorrow
(Tak ada duka atau nestapa)

There are ways to get there
(Ada banyak cara tuk sampai ke sana)

If you care enough for the living
(Jika kau peduli pada kehidupan)

Make a little space, make a better place
(Berilah ruang kecil, jadikanlah tempat yang lebih baik)
Chorus

Heal the world
(Sembuhkanlah dunia)

Make it a better place
(Jadikan dunia ini tempat yang lebih baik)

For you and for me and the entire human race
(Untukmu dan untukku dan untuk seluruh umat manusia)

There are people dying
(Banyak orang yang sekarat)

If you care enough for the living
(Jika kau peduli pada kehidupan)

Make a better place
(Jadikan tempat yang lebih baik)

For you and for me
(Untukmu dan untukku)

If you want to know why
(Jika kau ingin tahu kenapa)

There's a love that cannot lie
(Ada cinta yang tak dapat berdusta)

Love is strong
(Cinta itu kuat)

It only cares for joyful giving
(Ia hanya peduli pada pemberian yang ikhlas)

If we try we shall see
(Jika kita berusaha kita kan melihat)

In this bliss we cannot feel
(Di dalam kebahagiaan ini kita tak dapat merasakan)

Fear or dread
(Ketakutan atau kengerian)

We stop existing and start living
(Kita berhenti ada dan mulai hidup)

Than it feels that always
(Lalu selalu terasa)

Love's enough for us growing
(Cinta saja cukup bagi kita untuk tumbuh)

Make a better world, make a better world
(Jadikan dunia yang lebih baik)
Chorus

Heal the world
(Sembuhkanlah dunia)

Make it a better place
(Jadikan dunia ini tempat yang lebih baik)

For you and for me and the entire human race
(Untukmu dan untukku dan untuk seluruh umat manusia)

There are people dying
(Banyak orang sekarat)

If you care enough for the living
(Jika kau peduli pada kehidupan)

Make a better place
(Jadikan tempat yang lebih baik)

For you and for me
(Untukmu dan untukku)
Bridge

And the dream we would conceived in
(Dan impian yang kita angan-angankan)

Will reveal a joyful face
(Akan tunjukkan wajah ceria)

And the world we once believed in
(Dan dunia yang pernah kita yakini)

Will shine again in grace
(Akan bersinar lagi dengan eloknya)

Then why do we keep strangling life
(Lalu kenapa kita terus saja mencekik kehidupan)

Wound this earth, crucify it's soul
(Melukai dunia ini, menyalib jiwanya)

Though it's plain to see, this world is heavenly
(Meskipun kelihatan sederhana, dunia ini bagian dari surga

Be God's glow
(Jadilah kilau Tuhan)

We could fly so high
(Kita bisa terbang sangat tinggi)

Let our spirits never die
(Jangan biarkan jiwa kita mati)

In my heart I feel
(Di hatiku kurasakan)

You are all my brothers
(Kalian semua adalah saudaraku)

Create a world with no fear
(Ciptakan dunia tanpa rasa takut)

Together we'll cry happy tears
(Bersama-sama kita akan menangis bahagia)

See the nations turn their swords into plowshares
(Melihat negara-negara mengganti pedang mereka dengan bajak)

You and for me / Heal the world we live in
(Untukmu dan untukku / sembuhkan dunia tempat tinggal kita)

You and for me / Save it for our children
(Untukmu dan untukku / selamatkan untuk anak-anak kita)

Sumber:  
Detik

Serial Trio Vihara: Kami Ada Untukmu

Seri Trio Vihara

Jaya Ratana

*********************************************************************************************

Vivi Muditavati, gadis manis berbadan gempal, berbakat jadi pemimpin, tempat curhat kedua teman akrabnya, ia anak yatim piatu. Hani Filianti, agak tomboy, paling rame, selalu jadi penyegar suasana, sering muncul dengan ide brilian, tapi kadang idenya konyol. Rara Dewi, suka travelling, doyan jajan, agak penakut, dan setia kawan. Vivi, Hani, dan Rara adalah aktivis Sekolah Minggu Buddhis (SMB), mereka bertiga sangat kompak, teman-teman di vihara menyebut mereka Trio Vihara.

*********************************************************************************************

 


Sabtu pagi ini cuaca dingin sekali. Biasanya Vivi tidak memakai sandal di dalam kamar kost-nya, pagi ini ia terpaksa memakai sandal hotel agar bisa berjalan santai tanpa kedinginan. Kalau tanpa alas kaki, rasanya ingin ke toilet terus, pipis.  

Memang sekarang sedang musim hujan, tapi entah mengapa cuaca jadi sedingin ini. Kemarin pagi juga sama, ketika ke teras, waktu bicara, mulut terlihat seperti mengeluarkan asap.  

Tiba-tiba ponsel Vivi menyala, ada notifikasi pesan masuk. Vivi meraih ponsel, lalu membukanya. “Vi, kamu masih ingat dengan Larry?” begitu WA dari Rara.  

“Ingat, yang tahun lalu pindah ke Jakarta karena ikut orang tuanya ‘kan?” Vivi memastikan.  

“Iya, benar. Tadi barusan aku dapat kabar buruk. Lantai dua rumah yang mereka sewa habis terbakar. Larry tinggal di lantai dua. Untungnya tidak ada korban jiwa. Semua pakaian dan perlengkapan sekolah ludes terbakar. Lantai satunya tidak terbakar, mobil pemadam kebakaran dan warga dengan cepat berhasil memadamkan apinya.  

Suasana hening sejenak. “Vivi, kamu dengar ‘kan?” tanya Rara agak khawatir. “Iya, aku dengar. Bagaimana kalau besok kita galang dana untuk meringankan beban keluarga Larry …” tanya Vivi.  

“Iya, aku juga pikir begitu,” kata Rara.  

*  *  *  *  *  *  *  *  *  * 

Pujabakti dan sesi Dhamma baru saja berakhir. “Adik-adik serta Cici dan Koko yang hadir di sini. Vivi ingin menyampaikan sesuatu. Kemarin Vivi dapat kabar, Larry yang dulu ikut SMB di sini dan sudah pindah ke Jakarta, terkena nusibah. Lantai dua rumah yang mereka sewa habis terbakar. Pakaian dan peralatan sekolah Larry ludes terbakar. Vivi akan galang dana untuk meringankan mereka. Cici Koko yang ingin bantu bisa hubungi Vivi, Hani, atau Rara,” cerita Vivi. 

Wow … responnya sangat mengagumkan. Semua meresponnya secara positif. Anak-anak SMB menyumbang uang. Para orang tua menghampiri Vivi, Hani, dan Rara. Ada yang menyumbang uang, pakaian bekas layak pakai, dan ada yang menyatakan akan menyumbangkan seragam sekolah. 

Ada orang tua yang memiliki toko sembako menyumbangkan kebutuhan pokok, dan ada orang tua yang sering melakukan perjalanan ke Jakarta menawarkan diri untuk mengantarkan langsung bantuan berupa barang yang nanti terkumpul. Luar biasa!  

“Cici, Koko, dan adik-adik, atas nama keluarga Larry, kami Pembina SMB mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Semoga kebajikan ini berbuah hal-hal baik bagi kita semua. Sadhu … sadhu … sadhu …” kata Vivi.  

Cuaca beberapa hari ini memang sangat dingin, tapi respon keluarga besar SMB sangat menghangatkan jiwa.   

  

Dikutip dari Buletin KCBI edisi Oktober 2025 halaman 53/54 karya Jaya Ratana.

Puisi Karya Hendry F.Jan di Konferensi International Kesusastraan

Puisi berjudul Anicca dan Seribu Hari ... (ada di halaman 5) termasuk puisi yang dikaji Bu Latifah,S.S.,M.A. di Konferensi International Kesusastraan HISKI ke-34. 

Konferensi ini berlangsung di Gedung Graha Wiyata, BBPMP Surabaya pada tanggal 10-12 Oktober 2025. 

Apa saja yang dibahas Bu Latifah (dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa), silakan klik link berikut ini:

file pdf (lihat slide ke-5) 

file Power Point (lihat slide ke-5)

 

Note:

  • Puisi Anicca bisa dilihat di sini (klik saja): Anicca 
  • Puisi Seribu Hari ... bisa dilihat di sini (klik saja): Seribu Hari ... dan di ebook ”Mengenang Mama Linda: Wanita Luar Biasa nan Penyayang” edisi 6