Tipitaka Harian 047, Dhammapada 53; Cerita Visākhā

 


Suatu ketika, ada seorang bhikkhu yang berdiri di depan rumah Migāra untuk menyambut derma. Namun, Migāra tetap saja menyantap makanannya dan pura-pura tidak melihat.

Dengan sopan Visākhā berkata “Bhante, berlalulah. Ayah mertua saya sedang menyantap makanan basi.”

Migāra murka dan langsung mengusir Visākhā. Visākhā meminta agar masalah ini diselesaikan di depan delapan penasihat yang dipercaya ayahnya.

Di hadapan para penasihat, Visākhā menjelaskan bahwa perkataannya itu berarti bahwa Migāra hanyalah sedang menikmati buah kebajikan lampau, namun tidak membuat kebajikan baru. Inilah yang dimaksudkannya sebagai “makanan basi”.

Mendengar itu, Migāra meminta maaf dan mengizinkan Visākhā mengundang Buddha dan para bhikkhu untuk menyambut derma makanan di rumahnya.

Visākhā pun meminta mertuanya untuk datang dan mendengarkan pembabaran dari Buddha.

Ketika Migāra berjalan ke aula, para petapa telanjang yang menjadi gurunya menasihati, “Jika engkau hendak mendengarkan pembabaran dari Petapa Gotama, jangan sampai engkau terlihat oleh-Nya.”

Migāra lalu bersembunyi di balik tirai sambil mendengarkan pembabaran dari Buddha. Namun, pembabaran itu terdengar jelas di balik tirai. Pada akhir pembabaran, Migāra mencapai kesucian Yang Masuk Arus.

Ia lalu menyibak tirai itu, mendatangi Buddha, bersujud, dan menyatakan perlindungan.

Ia lalu memuji Visākhā, “Putri yang baik, mulai hari ini, aku akan menghormatimu seperti ibuku sendiri.” Sejak saat itu, Visākhā dikenal sebagai Migāramātā, yang berarti “ibu Migāra”.

Suatu ketika, saat berkunjung ke Hutan Jeta, kain dan perhiasan Visākhā tertinggal. Visākhā bermaksud menjual kain dan perhiasannya, lalu uangnya akan ia dermakan kepada Saṅgha. Namun, kain dan perhiasan itu sangat mahal sehingga tidak ada yang mampu membelinya. Akhirnya Visākhā membeli sendiri kain dan perhiasannya itu, dan uangnya ia gunakan untuk membangun Wihara Pubbārāma.

Visākhā memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berbuat kebajikan. Buddha menjelaskan bahwa pada masa lalu dan masa mendatang, ia berbuat banyak kebajikan, seperti halnya seseorang yang merangkai banyak untaian bunga dari tumpukan bunga.

-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda. #tipitaka #dhamma #dharma #buddhism #buddhis #agamabuddha #sutta #namobuddha #gautambuddha #buddha #buddhaquotes #buddhist #kindness #happiness #peace #giving #murahhati #berbagi #buddhastatues #buddhaart #family #mindfulness #behappy #bemindful #meditation #meditasi #theravada #thailand #india #nepal


Sumber: Ehipassiko Foundation

0 komentar: