Suatu
ketika, ada seorang bhikkhu yang berdiri di depan rumah Migāra untuk
menyambut derma. Namun, Migāra tetap saja menyantap makanannya dan
pura-pura tidak melihat.
Dengan sopan Visākhā berkata “Bhante, berlalulah. Ayah mertua saya sedang menyantap makanan basi.”
Migāra
murka dan langsung mengusir Visākhā. Visākhā meminta agar masalah ini
diselesaikan di depan delapan penasihat yang dipercaya ayahnya.
Di
hadapan para penasihat, Visākhā menjelaskan bahwa perkataannya itu
berarti bahwa Migāra hanyalah sedang menikmati buah kebajikan lampau,
namun tidak membuat kebajikan baru. Inilah yang dimaksudkannya sebagai
“makanan basi”.
Mendengar itu, Migāra meminta maaf dan
mengizinkan Visākhā mengundang Buddha dan para bhikkhu untuk menyambut
derma makanan di rumahnya.
Visākhā pun meminta mertuanya untuk datang dan mendengarkan pembabaran dari Buddha.
Ketika
Migāra berjalan ke aula, para petapa telanjang yang menjadi gurunya
menasihati, “Jika engkau hendak mendengarkan pembabaran dari Petapa
Gotama, jangan sampai engkau terlihat oleh-Nya.”
Migāra lalu
bersembunyi di balik tirai sambil mendengarkan pembabaran dari Buddha.
Namun, pembabaran itu terdengar jelas di balik tirai. Pada akhir
pembabaran, Migāra mencapai kesucian Yang Masuk Arus.
Ia lalu menyibak tirai itu, mendatangi Buddha, bersujud, dan menyatakan perlindungan.
Ia
lalu memuji Visākhā, “Putri yang baik, mulai hari ini, aku akan
menghormatimu seperti ibuku sendiri.” Sejak saat itu, Visākhā dikenal
sebagai Migāramātā, yang berarti “ibu Migāra”.
Suatu ketika, saat
berkunjung ke Hutan Jeta, kain dan perhiasan Visākhā tertinggal.
Visākhā bermaksud menjual kain dan perhiasannya, lalu uangnya akan ia
dermakan kepada Saṅgha. Namun, kain dan perhiasan itu sangat mahal
sehingga tidak ada yang mampu membelinya. Akhirnya Visākhā membeli
sendiri kain dan perhiasannya itu, dan uangnya ia gunakan untuk
membangun Wihara Pubbārāma.
Visākhā memiliki kecenderungan yang
sangat kuat untuk berbuat kebajikan. Buddha menjelaskan bahwa pada masa
lalu dan masa mendatang, ia berbuat banyak kebajikan, seperti halnya
seseorang yang merangkai banyak untaian bunga dari tumpukan bunga.
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda. #tipitaka #dhamma #dharma #buddhism #buddhis #agamabuddha #sutta #namobuddha #gautambuddha #buddha #buddhaquotes #buddhist #kindness #happiness #peace #giving #murahhati #berbagi #buddhastatues #buddhaart #family #mindfulness #behappy #bemindful #meditation #meditasi #theravada #thailand #india #nepal
0 komentar:
Posting Komentar