Suatu hari, Āyasmā Cakkhupāla berkunjung ke Hutan Jeta untuk melakukan penghormatan kepada Buddha.
Malamnya,
saat melakukan tapa jalan, tanpa sengaja ia menginjak mati banyak
serangga. Keesokan paginya, serombongan bhikkhu bermaksud
mengunjunginya.
Namun di dekat tempat Āyasmā Cakkhupāla menginap,
mereka melihat banyak serangga mati. Bhikkhu-bhikkhu mengadukan hal ini
kepada Buddha.
Namun Buddha menyatakan bahwa Āyasmā Cakkhupāla
tidak melihat serangga-serangga itu karena matanya buta. Selain itu,
Āyasmā Cakkhupāla juga telah mencapai kesucian Yang Layak, sehingga
tidak mungkin ia dengan sengaja membunuh.
Buddha kemudian
menuturkan bahwa pada kehidupan lampau Āyasmā Cakkhupāla pernah menjadi
tabib. Salah satu pasiennya, seorang wanita, berhasil ia sembuhkan
penyakit matanya.
Si wanita membohongi sang tabib karena hendak
berkelit dari janji yang telah dibuatnya kepada sang tabib jika ia
berhasil menyembuhkan sakit matanya.
Karena marah, sang tabib akhirnya memberikan obat lagi yang akhirnya membutakan mata wanita itu.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.
#tipitakaharian #tipitaka #buddhadhamma #buddhadharma #dharma #dhammapada #dhamma #dharma #truth #kindness #love #positifthinking #mind #meditasi #meditation #cintakasih #kasihsayang #agama #buddha #gautambuddha #buddhagautama #namobuddha #buddhaquotes #buddhateachings #buddhastatue #amituofo #amitabha #chinese #kebahagiaan #weekend
Sumber: Ehipassiko Foundation




0 komentar:
Posting Komentar