Maṭṭhakuṇḍalī adalah seorang brahmana muda. Ayahnya, Adinnapubbaka, sangat kikir dan jarang bederma.
Tatkala jatuh sakit, Maṭṭhakuṇḍalī dibiarkan sakit hingga sekarat, lalu dibaringkan di beranda rumahnya.
Buddha
datang mengunjunginya dan memperlihatkan cahaya yang memancar dari
tubuh-Nya. Melihat cahaya indah itu, timbul dalam diri Maṭṭhakuṇḍalī
keyakinan kuat terhadap Buddha.
Keyakinan itu begitu kuatnya sehingga Maṭṭhakuṇḍalī terlahir ulang di Surga Tiga Puluh Tiga.
Maṭṭhakuṇḍalī, yang sudah menjadi dewa, mengunjungi ayahnya dan menganjurkan sang ayah untuk bederma kepada Buddha.
Usai
mendermakan makanan, Adinnapubbaka bertanya kepada Buddha, apakah
mungkin seseorang terlahir ulang sebagai dewa atas keyakinan yang kuat
kepada Buddha.
Buddha meminta Maṭṭhakuṇḍalī untuk menampakkan
diri dan menceritakan bagaimana ia bisa terlahir di Surga Tiga Puluh
Tiga. Pada akhir kisah itu, Maṭṭhakuṇḍalī dan ayahnya menjadi Yang Masuk
Arus.
Hal-hal didahului pikiran,
dipelopori pikiran, diciptakan pikiran.
Jika dengan pikiran jernih,
berbicara atau berbuat,
maka kebahagiaan mengikutinya,
bagai bayang-bayang yang tak pergi.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.
Sumber: Ehipassiko Foundation




0 komentar:
Posting Komentar