Tipitaka Harian 057, Cariyāpiṭaka 8; Perilaku Raja Sivi

 


Di kota yang disebut Ariṭṭha, aku adalah kesatria bernama Sivi; duduk di istana megah, aku kemudian berpikir demikian.

“Apa pun yang diberikan manusia, tidak ada yang aku tidak berikan; bahkan jika siapa pun meminta mata dariku, aku akan memberikannya tanpa gentar.”

Mengetahui perniatanku, Sakka, penguasa para dewa, yang duduk dikerumuni para dewa, mengucapkan kata-kata ini.

“Duduk di istana megah, Raja Sivi yang memiliki kemakmuran besar, merenungi berbagai derma, tak melihat apa yang tak bisa diberikan.

Mari, aku akan mengujinya, apakah ini benar ataukah tidak benar; tunggulah sejenak, sampai aku mengetahui pikirannya.”

Muncul sebagai lelaki yang gemetar, kepala berambut kelabu, anggota badan keriput, tua, sakit, dan buta, ia mendekati raja.

Kemudian merentangkan lengan kiri dan kanannya, lalu menangkupkan tangan di atas kepala, mengucapkan kata-kata ini.

“Aku meminta kepadamu, Maharaja, yang telah memerintah kerajaan dengan bajik, yang kesenangannya dalam memberi tersohor sampai ke para dewa dan manusia.

Kedua mataku, penglihatanku, telah buta, hancur; berikanlah kepadaku satu mata, dengan demikian engkau bisa bertahan dengan satu.”

Mendengar kata-katanya, aku gembira, batin bersemangat; dengan tangan tertangkup, penuh semangat, mengucapkan kata-kata ini.

“Kini, aku, memikiri ini, datang ke sini dari istana; engkau, mengetahui pikiranku, datang untuk meminta mata.

Ah, pengharapanku terjadi, niatku terpenuhi; hari ini aku akan memberi kepada seorang peminta, derma agung yang belum pernah diberikan sebelumnya.”

“Mari Sivaka, bangkit, jangan diam saja, jangan gemetar. Cukillah kedua mataku untuk orang malang ini.”

Maka Sivaka, didesak olehku, mematuhi ucapanku, mencabutnya seperti biji palem, dan memberikannya kepada peminta.

Ketika aku masih berkeinginan melakukan derma, ketika aku sedang melakukan derma, dan setelah derma itu diberikan olehku, tidak ada pergolakan dalam batin, demi kecerahan itu sendiri.

Kedua mata bukannya tak kusenangi, ataupun diri ini tak kusenangi; keserbatahuan sungguh berharga bagiku, karena itulah aku memberikan mata.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

0 komentar: