Di kota yang disebut Ariṭṭha, aku adalah kesatria bernama Sivi; duduk di istana megah, aku kemudian berpikir demikian.
“Apa
pun yang diberikan manusia, tidak ada yang aku tidak berikan; bahkan
jika siapa pun meminta mata dariku, aku akan memberikannya tanpa
gentar.”
Mengetahui perniatanku, Sakka, penguasa para dewa, yang duduk dikerumuni para dewa, mengucapkan kata-kata ini.
“Duduk
di istana megah, Raja Sivi yang memiliki kemakmuran besar, merenungi
berbagai derma, tak melihat apa yang tak bisa diberikan.
Mari, aku akan mengujinya, apakah ini benar ataukah tidak benar; tunggulah sejenak, sampai aku mengetahui pikirannya.”
Muncul sebagai lelaki yang gemetar, kepala berambut kelabu, anggota badan keriput, tua, sakit, dan buta, ia mendekati raja.
Kemudian merentangkan lengan kiri dan kanannya, lalu menangkupkan tangan di atas kepala, mengucapkan kata-kata ini.
“Aku
meminta kepadamu, Maharaja, yang telah memerintah kerajaan dengan
bajik, yang kesenangannya dalam memberi tersohor sampai ke para dewa dan
manusia.
Kedua mataku, penglihatanku, telah buta, hancur;
berikanlah kepadaku satu mata, dengan demikian engkau bisa bertahan
dengan satu.”
Mendengar kata-katanya, aku gembira, batin bersemangat; dengan tangan tertangkup, penuh semangat, mengucapkan kata-kata ini.
“Kini, aku, memikiri ini, datang ke sini dari istana; engkau, mengetahui pikiranku, datang untuk meminta mata.
Ah,
pengharapanku terjadi, niatku terpenuhi; hari ini aku akan memberi
kepada seorang peminta, derma agung yang belum pernah diberikan
sebelumnya.”
“Mari Sivaka, bangkit, jangan diam saja, jangan gemetar. Cukillah kedua mataku untuk orang malang ini.”
Maka Sivaka, didesak olehku, mematuhi ucapanku, mencabutnya seperti biji palem, dan memberikannya kepada peminta.
Ketika
aku masih berkeinginan melakukan derma, ketika aku sedang melakukan
derma, dan setelah derma itu diberikan olehku, tidak ada pergolakan
dalam batin, demi kecerahan itu sendiri.
Kedua mata bukannya tak
kusenangi, ataupun diri ini tak kusenangi; keserbatahuan sungguh
berharga bagiku, karena itulah aku memberikan mata.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.
Sumber: Ehipassiko Foundation




0 komentar:
Posting Komentar