Tissa adalah sepupu Pangeran Siddhattha. Ia menjadi bhikkhu pada usia lanjut.
Tissa sangat congkak dan keras kepala, senang dihormati, tidak melaksanakan kewajiban, dan sering bertengkar.
Nasihat
bhikkhu-bhikkhu lain tidak digubrisnya. Buddha bertutur bahwa pada
kehidupannya yang lampau, Tissa juga keras kepala seperti ini.
Dahulu kala, di Bārāṇasī, Tissa pernah menjadi petapa bernama Devala.
Suatu hari, Devala bermalam di suatu tempat. Seorang petapa lain yang bernama Nārada datang dan bermalam di tempat yang sama.
Karena
suatu kesalahpahaman, Devala mencerca Nārada dengan kutukan bahwa
kepala Nārada akan pecah menjadi tujuh bagian ketika matahari
menyingsing.
Dengan kekuatan batiniahnya, Nārada melihat bahwa
kutukan itu akan berbalik menimpa Devala. Tergerak belas kasihannya, ia
membuat matahari jangan sampai terbit.
Raja di Bārāṇasī saat itu
meminta agar Devala meminta maaf, namun ia menolak. Lagi-lagi karena
kewelasannya, Nārada membuat matahari terbit dan meminta Nārada
melakukan sesuatu sesuai petunjuknya agar karma buruk Devala tidak
berbuah.
Buddha menyatakan bahwa Devala adalah Tissa, sang raja adalah Ānanda, dan diri-Nya adalah Nārada.
Ia menyakitiku, memukulku,
mengalahkanku, merampasku;
dan mereka yang berkecamuk ini,
permusuhan mereka tak mereda.
Ia menyakitiku, memukulku,
mengalahkanku, merampasku;
dan mereka yang tak berkecamuk ini,
permusuhan mereka mereda.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.
#tipitakaharian #sutta #vinaya #abhidhamma #buddha #buddhist #buddhism #buddhaquotes #buddhateachings #namobuddha #gautambuddha #india #thailand #tibet #vajrayana #theravada #tantric #dhammapada #dhammadesana #wiharabuddha #pemaafan #forgiveness #kindness #love #inspirasikebajikan #kebahagiaan #kebajikan #katamotivasi #katakatabijak #friendship
Sumber: Ehipassiko Foundation




0 komentar:
Posting Komentar