Tipitaka Harian 060, Dhammapada 3-4; Cerita Thera Tissa

 


Tissa adalah sepupu Pangeran Siddhattha. Ia menjadi bhikkhu pada usia lanjut.

Tissa sangat congkak dan keras kepala, senang dihormati, tidak melaksanakan kewajiban, dan sering bertengkar.

Nasihat bhikkhu-bhikkhu lain tidak digubrisnya. Buddha bertutur bahwa pada kehidupannya yang lampau, Tissa juga keras kepala seperti ini.

Dahulu kala, di Bārāṇasī, Tissa pernah menjadi petapa bernama Devala.

Suatu hari, Devala bermalam di suatu tempat. Seorang petapa lain yang bernama Nārada datang dan bermalam di tempat yang sama.

Karena suatu kesalahpahaman, Devala mencerca Nārada dengan kutukan bahwa kepala Nārada akan pecah menjadi tujuh bagian ketika matahari menyingsing.

Dengan kekuatan batiniahnya, Nārada melihat bahwa kutukan itu akan berbalik menimpa Devala. Tergerak belas kasihannya, ia membuat matahari jangan sampai terbit.

Raja di Bārāṇasī saat itu meminta agar Devala meminta maaf, namun ia menolak. Lagi-lagi karena kewelasannya, Nārada membuat matahari terbit dan meminta Nārada melakukan sesuatu sesuai petunjuknya agar karma buruk Devala tidak berbuah.

Buddha menyatakan bahwa Devala adalah Tissa, sang raja adalah Ānanda, dan diri-Nya adalah Nārada.

Ia menyakitiku, memukulku,
mengalahkanku, merampasku;
dan mereka yang berkecamuk ini,
permusuhan mereka tak mereda.

Ia menyakitiku, memukulku,
mengalahkanku, merampasku;
dan mereka yang tak berkecamuk ini,
permusuhan mereka mereda.
-----
Diterjemahkan dari Pāḷi ke Indonesia oleh Handaka Vijjānanda.

#tipitakaharian #sutta #vinaya #abhidhamma #buddha #buddhist #buddhism #buddhaquotes #buddhateachings #namobuddha #gautambuddha #india #thailand #tibet #vajrayana #theravada #tantric #dhammapada #dhammadesana #wiharabuddha #pemaafan #forgiveness #kindness #love #inspirasikebajikan #kebahagiaan #kebajikan #katamotivasi #katakatabijak #friendship

 

Sumber: Ehipassiko Foundation

0 komentar: