Surahman | Friday, 29 April 2022 21.17 PM News
Foto: Ngasiran dan Ana Surahman
Kabupaten Purworejo merupakan wilayah yang berada di Jawa Tengah bagian selatan
tepatnya antara sungai Progo dan Cingcingguling.
Berdasarkan catatan sejarah yang termuat dalam Sejarah
Kabupaten Purworejo-Geografis dan Topologi Kabupaten Purworejo, wilayah ini
dikenal sebagai bagian dari Kerajaan Galuh. Oleh karena itu wilayah ini disebut
sebagai wilayah Pegaluhan atau Pengalihan.
Perubahan nama dari “pengalihan” berubah menjadi Pagelen dan terakhir kali
berubah menjadi Bagelen. Tanggal 5 Oktober 901 M, merupakan peristiwa penting
bagi titik awal dari Kabupaten Purworejo yaitu pematokan tanah perdikan Shima
yang dikukuhkan dengan sebuah Prasasti yang disebut sebagai prasasti Kayu Ara
Hiwang.
Prasasti ini ditemukan di bawah pohon Sono yang berada di dusun Boro Wetan
Kecamatan Banyuurip. Prasasti tersebut mengungkapkan bahwa pada tanggal 5
Oktober 901 M, adanya peristiwa peresmian sebagai adanya wilayah perdikan
Shima.
Wilayah perdikan tersebut meliputi sawah, padang rumput, goa, tanah garapan,
dan segala isinya. Sebelum dikenal dengan nama Purworejo, wilayah Kabupaten
Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Bagelen.
Dalam perang Diponegoro pada abad ke-19, wilayah Bagelen
dijadikan sebagai wilayah keresidanan sebagai kekuasaan Hindia-Belanda dengan
ibukota yaitu Kota Purworejo.
Adanya berbagai pertimbangan maka pada tanggal 1 Agustus 1901 Karesidenan
Bagelen diganti menjadi Karesidenan Kedu dan menjadi Kabupaten Purworejo. Mulai
saat itu ditetapkanlah tanggal 5 Oktober merupakan Hari Jadi Kabupaten
Purworejo. Peristiwa ini ditetapkan oleh Sidang DPRD Kabupaten Purworejo pada
tanggal 5 Oktober 1994.
Purworejo terbagi atas 16 kecamatan yang di antaranya
terdapat komunitas umat Buddha.
Keberadaan agama Buddha di Purworejo
Menurut catatan ketua Vihara Buddhaloka Purworejo, Yerry
Suryawijaya, perkembangan agama Buddha di Purworejo berawal dari datangnya
Bhikkhu Narada pada sekitar tahun 1961-1963 ke Purworejo.
Bhikkhu Narada sering melakukan perbincangan seputar ajaran
Buddha kepada beberapa umat yang ada saat itu.
Dalam catatan disebutkan bahwa perbincangan umat dengan Bhikkhu Narada
menjadi awal ketertarikan umat yang akhirnya menjadi tokoh penyebaran agama
Buddha sampai ke pelosok-pelosok desa di Kabupaten Purworejo.
Bhante Jinaphalo
Di Purworejo ini jugalah Bhante Jinaphalo (bhikkhu tertua di Indonesia yang
meninggal pada usia 113 tahun) merupakan putra Purworejo yang membabarkan
Dharma, juga menjadi guru pertama meditasi Bhante Uttamo, Kepala Vihara Samaggi
Jaya, Blitar, Jawa Timur.
Salah satu tokoh tersebut adalah Romo Wiryowratmoko, seorang tokoh dan sesepuh
umat Buddha yang sangat dikenal olah umat yang ada di pelosok desa Kabupaten
Purworejo.
Semenjak itu perkembangan umat di Kabupaten Purworejo mulai bertumbuh dengan
dibangunnya beberapa vihara yang tersebar di beberapa kecamatan.
Dari 16 kecamatan di Purworejo ada lima kecamatan yang terdapat komunitas umat
Buddhanya saat ini, yaitu; Kecamatan Purworejo, Kecamatan Kutoarjo, Kecamatan
Gebang, Kecamatan Bagelen, dan Kecamatan Purwodadi.
Menurut data penyuluh agama Buddha di Purworejo dan juga
data dari Gunadi (tokoh umat Buddha yang melakukan pendataan), terdapat 12
vihara di seluruh Kabupaten Purworejo dengan jumlah umat Buddha sekitar 394
jiwa.
Kecamatan Bagelen menjadi kecamatan yang mempunyai jumlah umat dan vihara
terbanyak di Kabupaten Purworejo. Di Kecamatan Bagelen terdapat enam vihara yang
tersebar di beberapa desa dan dusun, yaitu; Vihara Viriya Giri Dusun Kaliagung,
Desa Sokogung, Vihara Giri Shanti Dusun Sekangun Desa Sokoagung, Vihara Dhamma
Guna Dusun Sekuning Desa Hargorejo, Vihara Vimalakirti MNSBDI Setoyo Desa
Hargorejo, Vihara Vimalakirti MNSBDI Ngargo Desa Hargorejo, Vihara Vimalakirti
MNSBDI Sekuning Desa Hargorejo. Jumlah total umat Buddha di Kecamatan Bagelen
sebanyak 322 jiwa.
Sementara itu di Kecamatan Purworejo terdapat tiga vihara
dengan jumlah umat sebanyak 37 jiwa.
Kecamatan lain seperti Kecamatan Gebang 1 vihara dengen
jumlah umat 18 jiwa, Kecamatan Kutoarjo 1 vihara dengan 14 umat. Sedangkan
jumlah terkecil berada di Kecamatan Purwodadi yaitu 1 vihara hanya ada 3 umat.
Salah satu vihara di Kabupaten Purworejo (Vihara Giri Shanti Dusun Sekagun,
Desa Sokoagung, Kec. Bagelen)
Umat Buddha Purworejo terbagi dalam tiga majelis pembina yaitu; Majelis Agama
Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi), Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma
Indonesia (MNSBDI); dan Majelis Tridharma Indonesia (MTI).
Secara dinamika perkembangannya, keadaan umat Buddha Purworejo saat ini
nampaknya mengalami penyusutan yang cukup drastis selama kurun waktu 50 tahun
sejak mulai berkembangnya agama Buddha di Kabupaten Purworejo.
Seperti yang terjadi di Dusun Kaliagung, Desa Sokoagung,
Bagelen. Wagiyan (54), salah satu umat Vihara Viriya Giri Dusun Kaliagung
menuturkan bahwa sekitar tahun 70’an umat Buddha di dusunnya merupakan umat
mayoritas dari jumlah total penduduk dusun.
Akan tetapi saat ini justru berbalik menjadi umat minoritas.
“Menurut cerita sesepuh, dulu sekitar tahun 70’an di Dukuh Kaliagung ini 90%
warganya pemeluk agama Buddha. Sewaktu di sini masih mayoritas pemeluk Buddha
jumlah KK 150’an, dan yang pemeluk agama lain bisa dihitung jari. Tapi sekarang
dari total 180 KK yang umat Buddha tinggal 30-an KK. Jadi di sini penurunannya
jumlah umat Buddha sangat tajam,” katanya kepada tim BuddhaZine pada Minggu
(17/04).
Hal yang sama juga dinyatakan oleh Gunadi yang berdomisili di Kecamtan
Purworejo. “Di tempat tinggal saya, di Purworejo kota, jumlah umat Buddha
mengalami penurunan yang sangat drastis sekali.
“Saya cross check data statistik nasional tahun 2019 itu masih ada sekitar 900
orang yang tercatat beragama Buddha di KTP, tetapi tahun ini saya mengumpulkan
data dari masing-masing sekte yang ada di Purworejo hanya ada 400 orang,”
ungkapnya.
Sumber: BuddhaZine
0 komentar:
Posting Komentar